MAKALAH AGAMA ISLAM
DAKWAH RASULLULLAH SAW
Oleh :
YUSUF ILHAM AKBAR
NIA ARISTANTIA
RIEO CANDRA
M. SAYYID AL MULFARID
LUSY OLIVIA
ANDANI TIKA SURI
DWI ELSARANI
FATRICIA FRIMA
SMA NEGERI 3 KOTABUMI
Jalan Sersan Laba Gole Nomor 46 Kotabumi, Lampung
Utara
KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah, berkat rahmat Allah swt. Akhirnya
kami dapat menyelesaikan makalah agama islam yang membahas tentang da’wah
Rasullullah saw. Pembuatan makalah ini bertujuan antara lain agar para generasi
muda dan umat manusia dapat mengetahui tentang usaha Rasullullah saw dalam
menyebarkan agama islam ikan dan agar kami dapat memenuhi tugas yang dibimbing
oleh Ibu Arnis
Kami menyadari bahwa sebagai manusia yang memiliki
keterbatasan, tentu hasil karya kami ini tidak mungkin luput dari kekurangan .
Dengan semangat amar makruf dan upaya peningkatan ilmu pengetahuan, kami
senantiasa mengharapkan makalah ini dapat berguna bagi kita semua.
Kotabumi, 9 Desember 2010
Penyusun
PEMBAHASAN
A.Latar Belakang Masyarakat
Mekkah
Masyarakat
Arab, khususnya di Mekkah pada masa Nabi Muhammad saw diutus menjadi rasul
dalah masyarakat yang memiliki kebiasaan sebagai berikut
Dakwah
Periode Mekah
Kehidupan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau dimuliakan oleh Allah dengan
nubuwwah dan risalah terbagi menjadi dua periode yang masing-masing memiliki
keistimewaan tersendiri secara total, yaitu:
PERIODE MEKKAH : berlangsung selama lebih kurang 13 tahun
PERIODE MADINAH : berlangsung selama 10 tahun penuh
Dan masing-masing
periode mengalami beberapa tahapan sedangkan masing-masing tahapan memiliki
karakteristik tersendiri yang menonjolkannya dari yang lainnya. Hal itu akan
tampak jelas setelah kita melakukan penelitian secara seksama dan detail
terhadap kondisi yang dilalui oleh dakwah dalam kedua periode tersebut.
Periode Mekkah dapat
dibagi menjadi tiga tahapan:
Tahapan dakwah sirriyyah (sembunyi-sembunyi);
berlangsung selama tiga tahun.
Tahapan dakwah secara
terang-terangan kepada penduduk Mekkah; dari permulaan tahun ke-empat kenabian
hingga hijrah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah.
Tahapan dakwah di luar
Mekkah dan penyebarannya di kalangan penduduknya; dari penghujung tahun
ke-sepuluh kenabian-dimana juga mencakup Periode Madinah- dan berlangsung
hingga akhir hayat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Adapun mengenai
tahapan-tahapan Periode Madinah maka rincian pembahasannya akan diketengahkan
pada tempatnya nanti.
DIBAWAH NAUNGAN KENABIAN DAN KERASULAN
Di Gua Hira’
Setelah melalui
perenungan yang lama dan telah terjadi jurang pemisah antara pemikiran
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaumnya, beliau nampak lebih
menggandrungi untuk mengasingkan diri. Hal ini terjadi tatkala beliau menginjak
usia 40 tahun; beliau membawa roti dari gandum dan bekal air ke gua Hira’ yang
terletak di jabal an-Nur , yaitu sejauh hampir 2 mil dari Mekkah. Gua ini
merupakan gua yang indah, panjangnya 4 hasta, lebarnya 1,75 hasta dengan ukuran
zira’ al-Hadid (hasta ukuran besi).
Di dalam gua tersebut,
beliau berpuasa bulan Ramadhan, memberi makan orang-orang miskin yang
mengunjunginya. Beliau menghabiskan waktunya dalam beribadah dan berfikir
mengenai pemandangan alam di sekitarnya dan adanya kekuasaan dalam menciptakan
dibalik itu. Kaumnya yang masih menganut ‘aqidah yang amburadul dan cara
pandang yang rapuh membuatnya tidak tenang akan tetapi beliau tidak memiliki
jalan yang jelas, manhaj yang terprogram serta cara yang terarah yang
membuatnya tenang dan setuju dengannya.
Pilihan mengasingkan
diri (‘uzlah) yang diambil oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam ini
merupakan bagian dari tadbir (aturan) Allah terhadapnya. Juga, agar terputusnya
hubungannya dengan kesibukan-kesibukan di muka bumi, gemerlap hidup dan
nestapa-nestapa kecil yang mengusik kehidupan manusia menjadi noktah perubahan
dalam mempersiapkan diri menghadapi urusan besar yang sudah menantinya sehingga
siap mengemban amanah kubro, merubah wajah bumi dan meluruskan garis sejarah.
‘Uzlah yang sudah ditadbir oleh Allah ini terjadi tiga tahun sebelum beliau
ditaklif dengan risalah. Beliau mengambil jalan ‘uzlah ini selama sebulan
dengan semangat wujud yang bebas dan mentadabburi kehidupan ghaib yang
tersembunyi dibalik wujud tersebut hingga tiba waktunya untuk berinteraksi
dengan kehidupan ghaib ini saat Allah memperkenankannya.
Jibril ‘alaihissalam turun
membawa wahyu
Tatkala usia beliau
mencapai genap empat puluh tahun- yaitu usia yang melambangkan kematangan, dan
ada riwayat yang menyatakan bahwa di usia inilah para Rasul diutus –
tanda-tanda nubuwwah (kenabian) sudah tampak dan mengemuka, diantaranya; adanya
sebuah batu di Mekkah yang mengucapkan salam kepada beliau, terjadinya ar-Ru’ya
–ash-Shadiqah- (mimpi yang benar) yang datang berupa fajar subuh yang
menyingsing. Hal ini berlangsung hingga enam bulan –masa kenabian berlangsung
selama dua puluh tiga tahun- dan ar-Ru’ya ash-Shadiqah ini merupakan bagian
dari empat puluh enam tanda kenabian. Ketika memasuki tahun ketiga dari
pengasingan dirinya (‘uzlah) di gua Hira’, tepatnya di bulan Ramadhan, Allah
menghendaki rahmatNya dilimpahkan kepada penduduk bumi dengan memberikan
kemuliaan kepada beliau, berupa pengangkatan sebagai Nabi dan menurunkan Jibril
kepadanya dengan membawa beberapa ayat al-Qur’an.
Setelah melalui pengamatan
dan perenungan terhadap beberapa bukti-bukti dan tanda-tanda akurat, kami dapat
menentukan persisnya pengangkatan tersebut, yaitu hari Senin, tanggal 21 malam
bulan Ramadhan dan bertepatan dengan tanggal 10 Agustus tahun 610 M. Tepatnya
usia beliau saat itu empat puluh tahun enam bulan dua belas hari menurut
penanggalan qamariyyah (berdasarkan peredaran bulan; hijriyyah) dan sekitar
tiga puluh sembilan tahun tiga bulan dua puluh hari; ini menurut penanggalan
syamsiyyah (berdasarkan peredaran matahari; masehi).
Mari kita dengar sendiri
‘Aisyah ash-Shiddiqah radhiallâhu ‘anha menuturkan kisahnya kepada kita
mengenai peristiwa yang merupakan noktah permulaan nubuwwah tersebut dan yang
mulai membuka tabir-tabir gelapnya kekufuran dan kesesatan sehingga dapat
mengubah alur kehidupan dan meluruskan garis sejarah; ‘Aisyah radhiallâhu ‘anha
berkata: “Wahyu yang mula pertama dialami oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam adalah berupa ar-Ru’ya ash-Shalihah (mimpi yang benar) dalam tidur dan
ar-Ru’ya itu hanya berbentuk fajar shubuh yang menyingsing, kemudian beliau
lebih menyenangi penyendirian dan melakukannya di gua Hira’; beribadah di
dalamnya beberapa malam sebelum dia kembali ke rumah keluarganya.
Dalam melakukan itu, beliau
mengambil bekal kemudian kembali ke Khadijah mengambil perbekalan yang sama
hingga datang kebenaran kepadanya; yaitu saat beliau berada di gua Hira’
tersebut, seorang malaikat datang menghampiri sembari berkata: “bacalah!”, lalu
aku menjawab (ini adalah jawaban Rasulullah sendiri yang sepertinya oleh
pengarang buku ini dinukil langsung dari naskah asli haditsnya-red): “aku tidak
bisa membaca!”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bertutur lagi: “kemudian
dia memegang dan merengkuhku hingga aku kehabisan bertenaga, lalu setelah itu
melepaskanku sembari berkata: “bacalah!”. Aku tetap menjawab: “aku tidak bisa
membaca!”.
Lalu dia untuk kedua
kalinya, memegang dan merengkuhku hingga aku kehabisan bertenaga kemudian
melepaskanku seraya berkata lagi: “bacalah!”. Lalu aku tetap menjawab: “aku
tidak bisa membaca!”. Kemudian dia melakukan hal yang sama untuk ketiga
kalinya, sembari berkata: “bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu Yang
menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Rabb-mu lah Yang Paling Pemurah”. (Q.S. al-’Alaq: 1-3). Rasulullah pulang
dengan merekam bacaan tersebut dalam kondisi hati yang bergetar, dan menemui
Khadijah binti Khuwailid sembari berucap: “selimuti aku! Selimuti aku!”. Beliau
pun diselimuti hingga rasa ketakutannya hilang.
Beliau bertanya kepada
Khadijah: “apa yang terjadi terhadapku ini?”. Lantas beliau menceritakan
pengalamannya, dan berkata: “aku amat khawatir terhadap diriku!”. Khadijah
berkata: “sekali-kali tidak akan! Demi Allah! Dia Ta’ala tidak akan
menghinakanmu selamanya! Sungguh engkau adalah penyambung tali rahim, pemikul
beban orang lain yang mendapatkan kesusahan, pemberi orang yang papa, penjamu
tamu serta penolong setiap upaya menegakkan kebenaran”. Kemudian Khadijah
berangkat bersama beliau untuk menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abdul
‘Uzza, anak paman Khadijah (sepupunya). Dia (anak pamannya tersebut) adalah
seorang yang menganut agama Nashrani pada masa Jahiliyyah, dia bisa menulis
dengan tulisan ‘Ibrani dan sempat menulis dari injil beberapa tulisan yang
mampu ia tulis –sebanyak apa yang dikehendaki oleh Allah- dengan tulisan
‘Ibrani. Dia juga, seorang yang sudah tua renta dan buta; ketika itu Khadijah
berkata kepadanya: “wahai anak pamanku! Dengarkanlah (cerita) dari anak
saudaramu!”. Waraqah berkata: “wahai anak laki-laki saudara (laki-laki)-ku! Apa
yang engkau lihat?”.
Lalu Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam membeberkan pengalaman yang sudah dilihatnya. Waraqah berkata
kepadanya: “sesungguhnya inilah sebagaimana ajaran yang diturunkan kepada Nabi
Musa! Andai saja aku masih bugar dan muda ketika itu nanti! Andai saja aku
masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu!”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam berkata kepadanya: “benarkah mereka akan mengusirku?”. Dia menjawab:
“ya! Tidak seorangpun yang membawa seperti yang engkau bawa melainkan akan
dimusuhi, dan jika aku masih hidup pada saat itu niscaya aku akan membantumu
dengan sekuat tenaga”. Kemudian tak berapa lama dari itu Waraqah meninggal
dunia dan wahyu pun terputus (mengalami masa stagnan).
Masa Stagnan Turunnya Wahyu
Mengenai hal ini,
sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Ibnu Abbas yang intinya
menyatakan bahwa masa stagnan itu berlangsung selama beberapa hari; pendapat
inilah yang rajih/kuat bahkan setelah melalui penelitian dari segala aspeknya
secara terfokus harus menjadi acuan. Adapun riwayat yang berkembang bahwa hal
itu berlangsung selama tiga tahun atau dua tahun setengah tidaklah shahih sama
sekali, namun disini bukan pada tempatnya untuk membantah hal itu secara
detail.
Pada masa stagnan tersebut,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dirundung kesedihan yang mendalam yang
diselimuti oleh rasa kebingungan dan panik.
Dalam kitab “at-Ta’bir”,
Imam Bukhari meriwayatkan naskah sebagai berikut: “menurut berita yang sampai
kepada kami, wahyupun mengalami stagnan hingga membuat Nabi Shallallahu ‘alaihi
wasallam sedih dan berkali-kali berlarian agar dia dapat terjerembab ke ujung
jurang-jurang gunung, namun setiap beliau mencapai puncak gunung untuk
mencampakkan dirinya, malaikat Jibril menampakkan wujudnya sembari berkata:
“wahai Muhammad! Sesungguhnya engkau sebenar-benar utusan Allah!”. Spirit ini
dapat menenangkan dan memantapkan kembali jiwa beliau. Lalu pulanglah beliau ke
rumah, namun manakala masa stagnan itu masih terus berlanjut beliaupun
mengulangi tindakan sebagaimana sebelumnya; dan ketika dia mencapai puncak
gunung, malaikat Jibril menampakkan wujudnya dan berkata kepadanya seperti
sebelumnya (memberi spirit kepada beliau-red)”.
Jibril ‘alaihissalam Turun
Kembali Membawa Wahyu
Ibnu Hajar berkata: “Masa
stagnan itu sungguh telah menghilangkan ketakutan yang telah dialami oleh
beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dan membuatnya bersemangat untuk kembali
mengalaminya. Dan ketika hal ini benar terjadi dan beliau mulai menanti-nanti
datangnya wahyu, maka datanglah malaikat Jibril ‘alaihissalam untuk kedua
kalinya.
Imam Bukhari meriwayatkan
dari Jabir bin ‘Abdullah bahwasanya dia mendengar Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam menceritakan tentang masa stagnan itu, beliau bercerita:
“Ketika aku tengah berjalan-jalan, tiba-tiba aku mendengar suara yang berasal
dari langit, lalu aku mendongakkan pandangan ke arah langit, ternyata malaikat
yang dulu mendatangiku ketika di gua Hira’ duduk diatas kursi antara langit dan
bumi. Melihat hal itu aku terkejut hingga aku tersungkur ke bumi. Kemudian aku
mendatangi keluargaku sembari berkata: ‘selimutilah aku! Selimutilah aku!’.
Lantas mereka menyelimutiku, baru kemudian Allah menurunkah surat al-Muddatstsir;yaitu dari firmanNya;
yaa ayyuhal muddatstsir….hingga firmanNya: …fahjur’. (Q.S. al-Muddatstsir:
1-5).
Setelah itu wahyu tetap
terjaga dan datang secara teratur”. Dalam hadits yang shahih: ” Aku tinggal di
dekat gua Hira’ selama sebulan; tatkala aku sudah selesai melakukan itu, maka
aku turun gunung. Dan ketika aku sampai ke sebuah lembah dan aku dipanggil oleh
seseorang…”. Kemudian (teks hadits selanjutnya-red) beliau Shallallahu ‘alaihi
wasallam menyebutkan (cerita) sebagaimana yang telah dikemukakan diatas yang
intinya; bahwa ayat tersebut turun setelah sempurnanya beliau menyertai bulan
Ramadhan dan dengan begitu, artinya masa stagnan antara dua wahyu tersebut
berlangsung selama sepuluh hari sebab beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak
sempat lagi menyertai Ramadhan berikutnya setelah turunnya wahyu pertama.
Ayat-ayat tersebut
merupakan permulaan dari masa kerasulan (risalah) beliau Shallallahu ‘alaihi
wasallam alias datang setelah masa kenabian (nubuwwah) yang berjarak selama
masa stagnan turunnya wahyu. Ayat-ayat tersebut mengandung dua jenis taklif
(pembebanan syara’) beserta penjelasan konsekuensinya.
Jenis pertama adalah
mentaklif beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan penyampaian (al-Balagh)
dan peringatan (at-Tahzir) saja. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“bangunlah! Lalu berilah peringatan” (Surat al-Muddatstsir:2); makna ayat ini
adalah agar beliau memperingatkan manusia akan azab Allah atas mereka jika
mereka tidak bertaubat dari dosa, kesesatan, beribadah kepada selain Allah Yang
Maha Tinggi serta berbuat syirik kepadaNya dalam zat, sifat-sifat, hak-hak dan
perbuatan-perbuatan.
Jenis kedua adalah
mentaklif beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan penerapan
perintah-perintah Allah Ta’ala terhadap zatNya dan komitmen terhadapnya dalam
jiwa beliau agar mendapatkan keridhaan Allah dan menjadi suri teladan yang baik
bagi orang yang beriman kepada Allah. Hal ini tercermin pada ayat-ayat
berikutnya. FirmanNya Ta’ala: “dan Rabb-mu agungkanlah!”(al-Muddatstsir: 3);
maknanya adalah khususkanlah Dia Ta’ala dengan pengagungan dan janganlah
menyekutukanNya dengan seseorangpun.
Dan firmanNya: “dan
pakaianmu bersihkanlah!” (al-Muddatstsir:4); makna lahiriyahnya adalah
menyucikan/membersihkan pakaian dan jasad sebab tidaklah layak bagi orang yang
mengagungkan Allah dan menghadapNya dalam kondisi dilumuri oleh najis dan
kotor. Jika saja kesucian/kebersihan ini dituntut untuk dilakukan maka
kesucian/kebersihan diri dari virus-virus syirik, pekerjaan dan akhlak yang
hina tentunya lebih utama untuk dituntut.
Dan firmanNya: “dan
perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah!” (al-Muddatstsir:5) ;
maknanya adalah jauhkanlah dari sebab-sebab turunnya kemurkaan Allah dan
azabNya, dan hal ini direalisasikan melalui komitmen untuk ta’at kepadaNya dan
meninggalkan maksiat.
Sedangkan firmanNya: “dan
janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak!”
(al-Muddatstsir: 6); yakni janganlah kamu berbuat baik dengan menginginkan upah
dari manusia atasnya atau balasan yang lebih utama di dunia ini.
Adapun makna ayat terakhir
(yang diturunkan saat itu kepada beliau-red); didalamnya terdapat peringatan
akan adanya gangguan dari kaumnya ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam
berbeda agama dengan mereka, mengajak mereka kepada Allah semata dan
memperingatkan mereka akan azab dan siksaanNya; yaitu dalam firmanNya: “dan
untuk memenuhi (perintah Rabb-mu) bersabarlah!” (al-Muddatstsir: 7).
Permulaan ayat-ayat
tersebut (surat
al-Muddatstsir) berbicara tentang panggilan langit nan agung –terekam dalam
suara Yang Maha Besar dan Maha Tinggi– yang mengajurkan agar Nabi Shallallahu
‘alaihi wasallam melakukan urusan yang mulia ini dan memerintahkannya agar mengenyahkan
tidur, selimut dan berhangat-hangat guna menyongsong panggilan jihad, berjuang
dan menempuh jalan penuh ranjau; ini tergambar dalam firmanNya: “Hai orang yang
berselimut! bangunlah! Lalu berilah peringatan” (Surat al-Muddatstsir:2) .
Seakan-akan dikatakan
(kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam): sesungguhnya orang yang hanya
hidup untuk kepentingan dirinya saja, bisa saja hidup tenang dan nyaman
sedangkan engkau yang memikul beban yang besar ini; apa gunanya tidur bagimu?
Apa gunanya istirahat/refreshing bagimu? Apa gunanya permadani yang hangat
bagimu? Apa gunanya hidup yang tenang bagimu? Apa gunanya kesenangan yang
membuaikan bagimu? Bangunlah untuk melakukan urusan maha penting yang
menunggumu dan beban berat yang disediakan untukmu! Bangunlah untuk berjuang,
bergiat-giat, bekerja keras dan berletih-letih! Bangunlah! Karena waktu tidur
dan istirahat sudah berlalu, dan tidak akan kembali lagi sejak hari ini; yang
ada hanyalah mata yang meronda secara kontinyu, jihad yang panjang dan melelahkan.
Bangunlah! Persiapkan diri menyambut urusan ini dan bersiagalah!.
Sungguh ini merupakan
ucapan agung dan kharismatik yang (seakan) melucuti beliau Shallallahu ‘alaihi
wasallam dari kehangatan permadani di suatu rumah yang nyaman dan pelukan yang
suam untuk kemudian melemparkannya keluar menuju samudera luas yang diselimuti
oleh deru ombak dan hujan yang mengguyur, (dan samudera) dimana terjadi tarik
menarik yang membuat posisinya di hati manusia dan realitas hidup sama saja.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam telah bangun dan tetap bangun setelah perintah itu selama lebih dari
dua puluh tahun; tidak pernah beristirahat dan tidak pula hanya hidup untuk
kepentingan dirinya dan keluarganya. Bangun dan tetap bangun diatas pondasi
dakwah kepada Allah, mengembankan di pundaknya beban yang amat berat namun
beliau tidak menganggapnya berat; beban amanah kubro di muka bumi ini, beban
manusia secara keseluruhan, beban ‘aqidah secara keseluruhan, beban perjuangan
dan jihad di medan-medan yang berbeda. Beliau hidup menghadapi pertempuran yang
kontinyu selama lebih dari dua puluh tahun. Selama tenggang waktu ini, tidak
satupun hal yang dapat membuatnya lengah, yaitu sejak beliau mendengar
panggilan langit nan agung yang menyerahkan taklif yang begitu dahsyat untuk
diembannya… semoga Allah membalas jasa beliau terhadap manusia secara
keseluruhan dengan sebaik-baik imbalan.
Sekilas ulasan tentang
urutan kronologi turunnya wahyu
Sebelum beranjak ke
penjelasan detail mengenai kehidupan di bawah naungan risalah dan nubuwwah,
kami melihat perlu kita mengetahui urutan kronologi turunnya wahyu yang
merupakan sumber risalah dan tinta dakwah. Ibnu al-Qayyim berkata, ketika
menyinggung urutan kronologi turunnya wahyu tersebut:
Pertama, berupa ar-Ru’ya
ash-Shaadiqah (mimpi yang benar); ini merupakan permulaan turunnya wahyu kepada
beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kedua, berupa sesuatu yang
ditimbulkan oleh malaikat terhadap rau’ (hati yang ketakutan, akal) dan hatinya
tanpa dapat melihatnya; hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi
wasallam : “Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril ‘alaihissalam)
menghembuskan ke dalam hatiku (yang diliputi ketakutan) bahwasanya jiwa tidak
akan mati hingga disempurnakan rizki baginya. Oleh karena itu, bertakwalah
kalian kepada Allah, berindah-indahlah dalam meminta serta janganlah
keterlambatan rizki atas kalian mendorong kalian untuk memintanya dengan cara
melakukan perbuatan maksiat kepadaNya, karena sesungguhnya apa yang ada disisi
Allah tidak akan didapat kecuali dengan berbuat ta’at kepadaNya”.
Ketiga, berupa malaikat
yang berwujud seorang laki-laki; lantas dia mengajak beliau berbicara hingga
mengingat dengan jelas apa yang dikatakan kepadanya. Dalam urutan ini,
terkadang para shahabat melihat malaikat tersebut.
Keempat, berupa bunyi
gemerincing lonceng yang datang kepada beliau; peristiwa ini merupakan
pengalaman yang paling berat bagi beliau dimana malaikat memakai cara ini
hingga membuat keningnya mengerut bersimbah peluh. Ini terjadi di hari yang
amat dingin. Demikian pula, mengakibatkan onta beliau duduk bersimpuh ke bumi
bila beliau menungganginya. Dan pernah juga wahyu datang seperti kondisi
tersebut dan saat itu paha beliau ditaruh diatas paha Zaid bin Tsabit yang
seketika dirasakan olehnya (Zaid) demikian berat sehingga hampir saja remuk.
Kelima, berupa malaikat
dalam bentuk aslinya yang dilihat langsung oleh beliau, lalu diwahyukan kepada
beliau beberapa wahyu yang dikehendaki oleh Allah; peristiwa seperti ini
dialami oleh beliau sebanyak dua kali sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam surat an-Najm.
Keenam, berupa wahyu yang
diwahyukan kepada beliau; yaitu saat beliau berada diatas lelangit pada malam
mi’raj , diantaranya ketika diwajibkannya shalat dan lainnya.
Ketujuh, berupa Kalamullah
kepada beliau (dariNya kepadanya) tanpa perantaraan malaikat sebagaimana Allah
berbicara kepada Musa bin ‘Imran; peristiwa seperti ini terjadi dan diabadikan
secara qath’i berdasarkan nash al-Qur’an. Sedangkan terhadap Nabi Shallallahu
‘alaihi wasallam terjadi dalam hadits yang berbicara tentang Isra’.
Sebagian para ulama
menambah urutannya menjadi delapan, yaitu; Allah berbicara kepada beliau
Shallallahu ‘alaihi wasallam secara langsung tanpa hijab; ini merupakan
permasalahan yang diperdebatkan oleh ulama Salaf dan Khalaf. Demikian,
sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu al-Qayyim dengan sedikit diringkas dalam
penjelasan tentang urutan pertama dan kedelapan. Pendapat yang benar, bahwa
urutan terakhir ini (kedelapan) tidak tsabit (valid dan dipercaya keabsahan
riwayatnya-red).
Dakwah nabi
Muhammad saw dibagi menjadi 2 yaitu .
A. DAKWAH SECARA SENBUNYI - SEMBUNYI
Tiga Tahun Dakwah
Secara Sembunyi-sembunyi.Sebagaimana yang sudah diketahui, Makkah merupakan
sentral agama Bangsa Arab. Di sana
ada peribadatan terhadap Ka’bah dan penyembahan terhadap berhala dan
patung-patung yang disucikan seluruh Bangsa Arab. Cita-cita untuk memperbaiki
keadaan mereka tentu bertambah sulit dan berat jika orang yang hendak
mengadakan perbaikan jauh dari lingkungan mereka. Hal ini membutuhkan kemauan
keras yang tidak dapat diguncang musibah dan kesulitan. Maka dalam menghadapi
kondisi seperti ini, tindakan yang paling bijaksana adalah memulai dakwah
dengan sembunyi-sembunyi, agar penduduk Makkah tidak kaget karena tiba-tiba
menghadapi sesuatu yang menggusarkan mereka.
Kawanan Pertama
Sangat lumrah jika
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menampakkan Islam pada awal mulanya
kepada orang yang paling dekat dengan beliau, anggota keluarga dan
sahabat-sahabat karib beliau. Beliau menyeru mereka ini kepada Islam, juga
menyeru siapapun yang dirasa memiliki kebaikan, yang sudah beliau kenal secara
baik dan mereka pun mengenal beliau secara baik. Mereka yang memang diketahui
mencintai kebaikan dan kebenaran, dan mereka mengenal kejujuran dan kelurusan
beliau.
Maka mereka yang diseru ini
langsung memenuhi seruan beliau, karena mereka sama sekali tidak menyangsikan
keagungan diri beliau dan kejujuran pengabaran yang beliau sampaikan. Dalam
Tarikh Islam, mereka dikenal dengan sebutan As-Sabiqunal-Awwalun (yang
terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam). Mereka adalah : istri beliau
(Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid), pembantu beliau (Zaid bin Haritsah
bin Syurahbil Al-Kalby), anak paman beliau ( Ali bin Abu Thalib, yang saat itu
Ali masih anak-anak dan hidup dalam asuhan beliau), dan sahabat karib beliau
(Abu Bakar Ash-Shiddiq). Mereka ini masuk Islam pada hari pertama dimulainya
dakwah.
Abu Bakar sangat
bersemangat dalam berdakwah kepada Islam. Dia adalah seorang laki-laki yang
lemah lembut, pengasih dan ramah, memiliki akhlak yang mulia dan terkenal.
Kaumnya suka mendatangi Abu Bakar dan menyenanginya, karena dia dikenal sebagai
orang yang memiliki pengetahuan dan sukses dalam berdagang serta baik
pergaulannya dengan orang lain. Maka dia menyeru orang-orang dari kaumnya yang
biasa duduk-duduk bersamanya dan yang dapat dipercayainya. Berkat seruannya,
ada beberapa orang yang masuk Islam, yaitu Utsman bin Affan Al-Umawy, Az-Zubair
bin Al-Awwan Al-Asady, Abdurrahman bin Auf, Sa’d bin Abi Waqqash Az-Zuhriyah
dan Thalhah bin Ubaidillah At-Taimy. Mereka ini adalah orang-orang yang lebih
dulu masuk Islam, kawanan pertama dan fajar islam.
Kawanan lain yang juga
lebih dahulu masuk Islam adalah Bilal bin Rabbah Al-Habsyi, kemudian disusul
kepercayaan umat ini, Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah dari Bani Al-Harits bin
Fihr, Abu Salamah bin Abdul-Asad, Al-Arqam bin Abil-Arqam Al-Makhzumy, Utsman
bin Mazh’un dan kedua saudaranya, Qudamah dan Abdullah, Ubaidah bin Al-Harits
bin Al-Muththalib bin Abdi Manaf, Sa’id bin Zaid Al-Adawy dan istrinya
Fathimah binti Al-Khaththab Al-Adawiyah, saudara Umar bin Al-Khaththab, Khabbab
bin Al-Aratt, Abdullah bin Mas’ud Al-Hudzaly dan masih banyak lagi. Mereka
ini juga disebut As-Sabiqunal-Awwalun, yang semuanya berasal dari kabilah
Quraisy. Ibnu Hisyam menghitung jumlah mereka lebih dari empat puluh orang.
Namun siapa-siapa yang selain disebutkan di atas perlu diteliti lagi.
Ibnu Ishaq berkata,
“Setelah itu banyak orang yang masuk Islam, baik laki-laki maupun wanita,
sehingga nama Islam menyebar di seluruh Makkah dan banyak membicarakannya.â€
Mereka masuk Islam secara
sembunyi-sembunyi. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menemui mereka dan
mengajarkan agama secara kucing-kucingan. Sebab dakwah itu dilakukan secara
sembunyi-sembunyi dan secara perorangan. Wahyu diturunkan sedikit demi sedikit
lalu berhenti setelah turunnya surat
Al-Muddatstsir. Ayat-ayat dan potongan surat yang turun saat itu berupa
ayat-ayat pendek, dengan penggalan-penggalan kata yang indah menawan dan
sentuhan lembut, sesuai dengan iklim yang juga lembut pada saat itu, berisi
sanjungan mensucikan jiwa dan celaan mengotorinya dengan keduniaan, berisi
ciri-ciri surga dan neraka, yang seakan-akan keduanya tampak di depan mata,
membawa orang-orang Mukmin ke dunia lain tidak seperti dunia yang ada pada saat
itu.
Shalat
Di antara wahyu yang
pertama-tama turun adalah perintah shalat. Muqatil bin Sulaiman berkata,
“Allah mewajibkan shalat dua rakaat pada pagi hari dan dua rakaat pada petang
hari pada masa awal Islam, yang didasarkan pada firman Allah ; Artinya : “Dan
bertasbilah seraya memuji Rabbmu pada waktu pagi dan petang.†(Al-Mukminun:55).
Ibnu Hajar menuturkan,
sebelum Isra’ Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sudah pernah shalat, begitu
pula para shahabat. Tapi terdapat perbedaan pendapat, adakah shalat yang diwajibkan
sebelum ada kewajiban shalat lima
waktu ataukah tidak? Ada
yang berpendapat, yang diwajibkan pada masa itu adalah shalat sebelum terbit
matahari dan sebelum terbenamnya matahari.
Al-Harits bin Usamah
meriwayatkan dari Jalan ibnu Luhai’ah secara maushul dari Zaid bin Haritsah,
bahwa pada awal-awal turunnya, Jibril mendatangi Rasulullah Sallallahu Alaihi
wa Sallam dan mengajarkan wudhu kepada beliau. Seusai wudhu’, beliau
mengambil seciduk air lalu memercikkan ke kemaluan. Ibnu Majah juga meriwayatkan
hal ini dengan makna yang serupa. Juga diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib
dan Ibnu Abbas di dalam hadits Ibnu Abbas, dan hal itu termasuk kewajiban yang
pertama diturunkan.
Ibnu Hisyam menyebutkan,
jika tiba waktu shalat, Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat
pergi ke tempat yang terpencil lalu secara sembunyi-sembunyi mengerjakan
shalat, agar tidak dilihat kaumnya. Suatu kali Abu Thalib melihat Nabi
Sallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat bersama Ali. Maka Abu Thalib menanyakan
shalat itu. Setelah mendapat penjelasan yang cukup memuaskan, Abu Thalib
menyuruh beliau dan Ali agar menguatkan hati.
Orang-orang Quraisy
Mendengar Kabar Secara Global
Setelah melihat beberapa
kejadian di sana
sini, ternyata dakwah Islam sudah didengar orang-orang Quraisy pada tahapan
ini, sekalipun dakwah itu masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan
perorangan. Namun mereka tidak ambil peduli.
Muhammad Al-Ghazaly
menuturkan, kabar tentang dakwah Islam ini sudah mulai menyebar di kalangan
orang-orang Quraisy, namun mereka tidak ambil peduli. Sebab mereka mengira
bahwa Muhammad hanya salah seorang di antara mereka yang peduli terhadap urusan
agama, yang suka berbicara tentang masalah ketuhanan dan hak-haknya, seperti
yang biasa dilakukan Umayyah bin Ash-Shallat, Qus bin Sa’idah, Amr bin Nufail
dan orang-orang yang lain. Tapi lama-kelamaan ada pula perasaan khawatir yang
mulai menghantui mereka karena pengaruh tindakan beliau. Oleh karena itu mereka
mulai menaruh perhatian terhadap dakwah beliau.
Selama tiga tahun dakwah
masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan perorangan. Selama jangka waktu
itu telah terbentuk sekelompok orang-orang Mukmin yang senantiasa menguatkan
hubungan persudaraan dan saling bahu membahu. Penyampaian dakwah terus dilakukan,
hingga turun wahyu yang mengharuskan Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam
menampakkan dakwah kepada kaumnya, menjelaskan kebatilan mereka dan menyerang
berhala-berhala sesembahan mereka.
B. DAKWAH TERANG-TERANGAN
Ibnu
Ishaq berkata, “Orang-orang memeluk Islam secara bergelombang, baik laki-laki
maupun wanita, sehingga berita tentang Islam tersebar luas di kota Makkah, dan Islam menjadi bahan
pembicaraan. Setelah itu Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan Rasul-Nya
menyampaikan Islam dan mengajak manusia secara terang-terangan, menampakkan
perintah Allah kepada manusia, sekaligus mengajak mereka kepada-Nya…”
Ibn Ishaq berkata
lagi. “Lalu Allah Swt. berfirman kepada Rasulullah saw:
]فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ
الْمُشْرِكِينَ[
Sampaikanlah olehmu secara terang-etrangan segala yang
diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. (QS
al-Hijir [15]: 94).
Allah Swt. juga
berfirman:
]وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ%
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ% فَإِنْ عَصَوْكَ
فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ[
Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang
terdekat dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu
orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu, katakanlah, “Sesungguhnya
aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kalian kerjakan.” (QS asy-Syu’ara
[26]: 214-216).
Tatkala Rasulullah
saw. memperlihatkan Islam secara terang-terangan kepada kaumnya dan menampakkan
perintah Allah kepada mereka secara terbuka, saat itu orang-orang Quraisy tidak
mengutuk beliau dan tidak memberikan reaksi, kecuali ketika suatu saat beliau
menyebut-nyebut tuhan-tuhan mereka dan menghinanya. Tatkala beliau melakukan
hal itu, seketika mereka menjadikan persoalan tersebut sebagai persoalan yang
besar; mereka menentangnya.” (Ibn Hisyam, Sîrah an-Nabî, jld. I/274-276).
Pelajaran yang Dapat
Dipetik
Pertama, dakwah Islam,
maupun dakwah yang menyerukan ideologi tertentu atau mengajak manusia melakukan
proses perubahan di tengah-tengah masyarakat
haruslah disampaikan secara terang-terangan, meskipun pada tahap awalnya
diserukan secara sembunyi-sembunyi (rahasia).
Tahap dakwah secara
terang-terangan adalah tahap yang harus dan wajib dilalui oleh para pengemban
dakwah Islam, termasuk harakah dakwah Islam, apapun risikonya. Sebab, target
dasar dari dakwah secara terang-terangan ini adalah membongkar berbagai
persepsi batil, sistem hukum kufur/thâghût, adat-istiadat sesat, serta perasaan
keliru dan telah mendarah daging di tengah masyarakat. Caranya adalah dengan
membangun opini umum tentang Islam di tengah-tengah mereka. Dengan begitu,
masyarakat akan sadar dan mengerti tentang kesesatan dan kekeliruan yang selama
ini mereka praktikkan dan yakini. Pada gilirannya, mereka akan menyingkirkan
semua itu seraya membangun persepsi, sistem, kebiasaan, dan perasaan baru yang
berdasarkan Islam.
Kedua, firman Allah (QS al-Hijir [15]: 94) di atas
menunjukkan perintah untuk menyampaikan Islam secara terang-terangan. Artinya,
para pengemban dakwah maupun harakah dakwah Islam tidak bisa memperhalus atau
menyembunyikan al-haq di hadapan masyarakat dengan tujuan untuk menghindari
kebinasaan atau motivasi buruk lainnya. Sebab, kalimat berikutnya, wa a‘ridh
‘an al-musyrikîn bermakna, berpalinglah dari orang-orang yang memasang
halangan/rintangan dalam penyampaian dakwah (tablig), dan jangan lagi
mempedulikan mereka (al-Qasimi, Mukhtashar min Mahâsin at-Ta‘wîl, hlm. 267).
Dengan kata lain, reaksi negatif masyarakat terhadap dakwah Islam tidak boleh
menyurutkan langkah dakwah, apalagi menyimpulkan bahwa ‘isi’ dakwah Islam itu
tidak sesuai sehingga perlu dikemas sesuai dengan tuntutan masyarakat.
Ketiga, dari petikan
sirah dakwah Rasulullah saw. di atas, ada fenomena menarik, yakni bahwa dakwah
secara terang-terangan pada mulanya tidak terlalu diperhatikan oleh masyarakat
kafir Quiraisy, karena mereka beranggapan, tidak ada sesuatu yang
‘membahayakan’ ideologi/keyakinan mereka; tidak mengorek-ngorek kedudukan para
pemimpin mereka; tidak menggugat kemapanan sistem dan adat istiadat mereka.
Namun, Rasulullah saw. kemudian menyampaikan firman Allah Swt.:
]إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ
حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ[
Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain
Allah (berhala) adalah umpan Jahanam; kalian pasti masuk ke dalamnya. (QS
al-Anbiya [21]: 98).
Ketika disampaikan
ayat di atas, barulah orang-orang kafir Quraisy melakukan penentangan terhadap
Rasulullah saw dan para sahabatnya serta dakwah Islam. Sejak saat itu
orang-orang kafir mengetahui tujuan dakwah Rasulullah saw, yaitu melakukan
perubahan di tengah-tengah masyarakat hingga Islam tegak sebagai sebuah
institusi politik, hukum, dan kepemimpinan di dunia. Sejak saat itu pula
dimulai pergulatan politik dan pertarungan pemikiran antara Islam dan
kekufuran, antara yang haq dan yang batil.
Oleh karena itu,
sekali memasuki dakwah secara terang-terangan (dawr al-I‘lan) dan
memproklamirkan tentang tujuan-tujuan dakwah serta mengajak masyarakat
melakukan perubahan fundamental, langkah dakwah tidak akan dan tidak boleh
surut kembali ke belakang. Dakwah secara terang-terangan merupakan tahap dakwah
yang paling berat, paling keras, paling menakutkan. Sebab, kebenaran dan
kebatilan berhadap-hadapan secara frontal; tidak ada sesuatu yang bisa
dikompromikan di antara keduanya. Ini adalah tahap interaksi dan perjuangan
(marhalah at-tafâ‘ul wa al-kifâh). Kaum kafir mulai memerangi dakwah Islam dan
para pengembannya dengan segala cara.
Sebagaimana dipahami,
seluruh dunia saat ini, termasuk Dunia Islam, sedang berada dalam kungkungan
ideologi, sistem, pemikiran, dan perasaan-perasaan kufur. Artinya, yang
dihadapi oleh dakwah Islam dan para pengembannya saat ini adalah kekufuran yang
bersifat global. Dengan demikian, amat keliru jika para pengemban dakwah
menempatkan sistem kufur dan ideologi kufur pada skala sempit sehingga
perjuangan dakwah pun hanya berada pada skala regional atau lokal. Sebab,
kekufuran dan para penganutnya di seluruh dunia pun akan berhadap-hadapan
dengan dakwah Islam dan para pengembannya sebagai kekuatan yang amat dahsyat.
Namun, semua itu bagi para pengemban dakwah
bukanlah sesuatu yang mengkhawatirkan, bukanlah sesuatu yang layak
memalingkannya dari kewajiban dakwahnya, atau yang menyebabkan bergesernya arah
dakwah.