Selasa, 17 April 2012

Makalah AGAMA ISLAM "DAKWAH RASULULLAH SAW"



MAKALAH AGAMA ISLAM
DAKWAH RASULLULLAH SAW







Oleh :

YUSUF ILHAM AKBAR
NIA ARISTANTIA
RIEO CANDRA
M. SAYYID AL MULFARID
LUSY OLIVIA
ANDANI TIKA SURI
DWI ELSARANI
FATRICIA FRIMA








SMA NEGERI 3 KOTABUMI
Jalan Sersan Laba Gole Nomor 46 Kotabumi, Lampung Utara








KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah, berkat rahmat Allah swt. Akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah agama islam yang membahas tentang da’wah Rasullullah saw. Pembuatan makalah ini bertujuan antara lain agar para generasi muda dan umat manusia dapat mengetahui tentang usaha Rasullullah saw dalam menyebarkan agama islam ikan dan agar kami dapat memenuhi tugas yang dibimbing oleh Ibu Arnis

Kami menyadari bahwa sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, tentu hasil karya kami ini tidak mungkin luput dari kekurangan . Dengan semangat amar makruf dan upaya peningkatan ilmu pengetahuan, kami senantiasa mengharapkan makalah ini dapat berguna bagi kita semua.















Kotabumi, 9 Desember 2010



                                                                                                Penyusun








PEMBAHASAN
A.Latar Belakang Masyarakat Mekkah
Masyarakat Arab, khususnya di Mekkah pada masa Nabi Muhammad saw diutus menjadi rasul dalah masyarakat yang memiliki kebiasaan sebagai berikut
*      1).Menyembah berhala. Pada saat itu mekkah merupakan kota pusat perdagangan peribadatan orang Arab. Mereka memuja dan menyembah patung atau berhala sebagai tuhan. Ratusan berhala terdapat di Ka’bah, di antaranya berhala yang terbesar dan terpopuler, yaitu Latta,Uzza, dan Manat. Menurut mereka,berhala – berhala itu anak tuhan yang akan mendatangkan syafaat.
*      2) Penduduk Mekkah sangat memerhatikan dan memelihara kedudukan tata nilai tyang tinggi dan istimewa karena hal semacam itu memberikan kehidupan yang makmur dan mekkah. Mereka juga menjual belikan budak belian dan wanita
*      3) Masyarakat mekkah gemar minum – minuman keras, nerjudi, dan berzina serta berlomba – lomba mencari kedudukan dan harta benda. Merka lebih memintingkan kehidupan duniawi sehingga mereka lupa dengan kehidupan di akhirat kelak.
*      4) Bangsa rab pada saat itu terpecah menjadi suku – suku (kabilah) yang saling membagaakan diri dengan suku mereka masing – masing. Sering sekali terjadi pertikaian, bersilisih paham, bahkan peperangan yang terjadi di antara mereka di sebabkan perkara – perkara kecil atau memperebutkan kekuasaan.
*      5) Kebiasaan oreng arab memberikan penghargaan terhadap orang lain yang di dasarkan atas kedudukan, keturunan,kebangsawanan, atu kekayaan. Seseorang yang berakhlak dan berilmu mendapatkan penghargaan atu kehormatan apabila ia bukan berasal dari keturunan bangsawan. 


Dakwah Periode Mekah

Kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau dimuliakan oleh Allah dengan nubuwwah dan risalah terbagi menjadi dua periode yang masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri secara total, yaitu:

PERIODE MEKKAH   : berlangsung selama lebih kurang 13 tahun
PERIODE MADINAH             : berlangsung selama 10 tahun penuh

Dan masing-masing periode mengalami beberapa tahapan sedangkan masing-masing tahapan memiliki karakteristik tersendiri yang menonjolkannya dari yang lainnya. Hal itu akan tampak jelas setelah kita melakukan penelitian secara seksama dan detail terhadap kondisi yang dilalui oleh dakwah dalam kedua periode tersebut.

Periode Mekkah dapat dibagi menjadi tiga tahapan:
Tahapan dakwah sirriyyah (sembunyi-sembunyi); berlangsung selama tiga tahun.
Tahapan dakwah secara terang-terangan kepada penduduk Mekkah; dari permulaan tahun ke-empat kenabian hingga hijrah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah.
Tahapan dakwah di luar Mekkah dan penyebarannya di kalangan penduduknya; dari penghujung tahun ke-sepuluh kenabian-dimana juga mencakup Periode Madinah- dan berlangsung hingga akhir hayat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Adapun mengenai tahapan-tahapan Periode Madinah maka rincian pembahasannya akan diketengahkan pada tempatnya nanti.

DIBAWAH NAUNGAN KENABIAN DAN KERASULAN

Di Gua Hira’

Setelah melalui perenungan yang lama dan telah terjadi jurang pemisah antara pemikiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaumnya, beliau nampak lebih menggandrungi untuk mengasingkan diri. Hal ini terjadi tatkala beliau menginjak usia 40 tahun; beliau membawa roti dari gandum dan bekal air ke gua Hira’ yang terletak di jabal an-Nur , yaitu sejauh hampir 2 mil dari Mekkah. Gua ini merupakan gua yang indah, panjangnya 4 hasta, lebarnya 1,75 hasta dengan ukuran zira’ al-Hadid (hasta ukuran besi).

Di dalam gua tersebut, beliau berpuasa bulan Ramadhan, memberi makan orang-orang miskin yang mengunjunginya. Beliau menghabiskan waktunya dalam beribadah dan berfikir mengenai pemandangan alam di sekitarnya dan adanya kekuasaan dalam menciptakan dibalik itu. Kaumnya yang masih menganut ‘aqidah yang amburadul dan cara pandang yang rapuh membuatnya tidak tenang akan tetapi beliau tidak memiliki jalan yang jelas, manhaj yang terprogram serta cara yang terarah yang membuatnya tenang dan setuju dengannya.

Pilihan mengasingkan diri (‘uzlah) yang diambil oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam ini merupakan bagian dari tadbir (aturan) Allah terhadapnya. Juga, agar terputusnya hubungannya dengan kesibukan-kesibukan di muka bumi, gemerlap hidup dan nestapa-nestapa kecil yang mengusik kehidupan manusia menjadi noktah perubahan dalam mempersiapkan diri menghadapi urusan besar yang sudah menantinya sehingga siap mengemban amanah kubro, merubah wajah bumi dan meluruskan garis sejarah. ‘Uzlah yang sudah ditadbir oleh Allah ini terjadi tiga tahun sebelum beliau ditaklif dengan risalah. Beliau mengambil jalan ‘uzlah ini selama sebulan dengan semangat wujud yang bebas dan mentadabburi kehidupan ghaib yang tersembunyi dibalik wujud tersebut hingga tiba waktunya untuk berinteraksi dengan kehidupan ghaib ini saat Allah memperkenankannya.

Jibril ‘alaihissalam turun membawa wahyu

Tatkala usia beliau mencapai genap empat puluh tahun- yaitu usia yang melambangkan kematangan, dan ada riwayat yang menyatakan bahwa di usia inilah para Rasul diutus – tanda-tanda nubuwwah (kenabian) sudah tampak dan mengemuka, diantaranya; adanya sebuah batu di Mekkah yang mengucapkan salam kepada beliau, terjadinya ar-Ru’ya –ash-Shadiqah- (mimpi yang benar) yang datang berupa fajar subuh yang menyingsing. Hal ini berlangsung hingga enam bulan –masa kenabian berlangsung selama dua puluh tiga tahun- dan ar-Ru’ya ash-Shadiqah ini merupakan bagian dari empat puluh enam tanda kenabian. Ketika memasuki tahun ketiga dari pengasingan dirinya (‘uzlah) di gua Hira’, tepatnya di bulan Ramadhan, Allah menghendaki rahmatNya dilimpahkan kepada penduduk bumi dengan memberikan kemuliaan kepada beliau, berupa pengangkatan sebagai Nabi dan menurunkan Jibril kepadanya dengan membawa beberapa ayat al-Qur’an.

Setelah melalui pengamatan dan perenungan terhadap beberapa bukti-bukti dan tanda-tanda akurat, kami dapat menentukan persisnya pengangkatan tersebut, yaitu hari Senin, tanggal 21 malam bulan Ramadhan dan bertepatan dengan tanggal 10 Agustus tahun 610 M. Tepatnya usia beliau saat itu empat puluh tahun enam bulan dua belas hari menurut penanggalan qamariyyah (berdasarkan peredaran bulan; hijriyyah) dan sekitar tiga puluh sembilan tahun tiga bulan dua puluh hari; ini menurut penanggalan syamsiyyah (berdasarkan peredaran matahari; masehi).

Mari kita dengar sendiri ‘Aisyah ash-Shiddiqah radhiallâhu ‘anha menuturkan kisahnya kepada kita mengenai peristiwa yang merupakan noktah permulaan nubuwwah tersebut dan yang mulai membuka tabir-tabir gelapnya kekufuran dan kesesatan sehingga dapat mengubah alur kehidupan dan meluruskan garis sejarah; ‘Aisyah radhiallâhu ‘anha berkata: “Wahyu yang mula pertama dialami oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah berupa ar-Ru’ya ash-Shalihah (mimpi yang benar) dalam tidur dan ar-Ru’ya itu hanya berbentuk fajar shubuh yang menyingsing, kemudian beliau lebih menyenangi penyendirian dan melakukannya di gua Hira’; beribadah di dalamnya beberapa malam sebelum dia kembali ke rumah keluarganya.

Dalam melakukan itu, beliau mengambil bekal kemudian kembali ke Khadijah mengambil perbekalan yang sama hingga datang kebenaran kepadanya; yaitu saat beliau berada di gua Hira’ tersebut, seorang malaikat datang menghampiri sembari berkata: “bacalah!”, lalu aku menjawab (ini adalah jawaban Rasulullah sendiri yang sepertinya oleh pengarang buku ini dinukil langsung dari naskah asli haditsnya-red): “aku tidak bisa membaca!”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bertutur lagi: “kemudian dia memegang dan merengkuhku hingga aku kehabisan bertenaga, lalu setelah itu melepaskanku sembari berkata: “bacalah!”. Aku tetap menjawab: “aku tidak bisa membaca!”.

Lalu dia untuk kedua kalinya, memegang dan merengkuhku hingga aku kehabisan bertenaga kemudian melepaskanku seraya berkata lagi: “bacalah!”. Lalu aku tetap menjawab: “aku tidak bisa membaca!”. Kemudian dia melakukan hal yang sama untuk ketiga kalinya, sembari berkata: “bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabb-mu lah Yang Paling Pemurah”. (Q.S. al-’Alaq: 1-3). Rasulullah pulang dengan merekam bacaan tersebut dalam kondisi hati yang bergetar, dan menemui Khadijah binti Khuwailid sembari berucap: “selimuti aku! Selimuti aku!”. Beliau pun diselimuti hingga rasa ketakutannya hilang.

Beliau bertanya kepada Khadijah: “apa yang terjadi terhadapku ini?”. Lantas beliau menceritakan pengalamannya, dan berkata: “aku amat khawatir terhadap diriku!”. Khadijah berkata: “sekali-kali tidak akan! Demi Allah! Dia Ta’ala tidak akan menghinakanmu selamanya! Sungguh engkau adalah penyambung tali rahim, pemikul beban orang lain yang mendapatkan kesusahan, pemberi orang yang papa, penjamu tamu serta penolong setiap upaya menegakkan kebenaran”. Kemudian Khadijah berangkat bersama beliau untuk menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza, anak paman Khadijah (sepupunya). Dia (anak pamannya tersebut) adalah seorang yang menganut agama Nashrani pada masa Jahiliyyah, dia bisa menulis dengan tulisan ‘Ibrani dan sempat menulis dari injil beberapa tulisan yang mampu ia tulis –sebanyak apa yang dikehendaki oleh Allah- dengan tulisan ‘Ibrani. Dia juga, seorang yang sudah tua renta dan buta; ketika itu Khadijah berkata kepadanya: “wahai anak pamanku! Dengarkanlah (cerita) dari anak saudaramu!”. Waraqah berkata: “wahai anak laki-laki saudara (laki-laki)-ku! Apa yang engkau lihat?”.

Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membeberkan pengalaman yang sudah dilihatnya. Waraqah berkata kepadanya: “sesungguhnya inilah sebagaimana ajaran yang diturunkan kepada Nabi Musa! Andai saja aku masih bugar dan muda ketika itu nanti! Andai saja aku masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu!”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “benarkah mereka akan mengusirku?”. Dia menjawab: “ya! Tidak seorangpun yang membawa seperti yang engkau bawa melainkan akan dimusuhi, dan jika aku masih hidup pada saat itu niscaya aku akan membantumu dengan sekuat tenaga”. Kemudian tak berapa lama dari itu Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus (mengalami masa stagnan).

Masa Stagnan Turunnya Wahyu

Mengenai hal ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Ibnu Abbas yang intinya menyatakan bahwa masa stagnan itu berlangsung selama beberapa hari; pendapat inilah yang rajih/kuat bahkan setelah melalui penelitian dari segala aspeknya secara terfokus harus menjadi acuan. Adapun riwayat yang berkembang bahwa hal itu berlangsung selama tiga tahun atau dua tahun setengah tidaklah shahih sama sekali, namun disini bukan pada tempatnya untuk membantah hal itu secara detail.

Pada masa stagnan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dirundung kesedihan yang mendalam yang diselimuti oleh rasa kebingungan dan panik.

Dalam kitab “at-Ta’bir”, Imam Bukhari meriwayatkan naskah sebagai berikut: “menurut berita yang sampai kepada kami, wahyupun mengalami stagnan hingga membuat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedih dan berkali-kali berlarian agar dia dapat terjerembab ke ujung jurang-jurang gunung, namun setiap beliau mencapai puncak gunung untuk mencampakkan dirinya, malaikat Jibril menampakkan wujudnya sembari berkata: “wahai Muhammad! Sesungguhnya engkau sebenar-benar utusan Allah!”. Spirit ini dapat menenangkan dan memantapkan kembali jiwa beliau. Lalu pulanglah beliau ke rumah, namun manakala masa stagnan itu masih terus berlanjut beliaupun mengulangi tindakan sebagaimana sebelumnya; dan ketika dia mencapai puncak gunung, malaikat Jibril menampakkan wujudnya dan berkata kepadanya seperti sebelumnya (memberi spirit kepada beliau-red)”.

Jibril ‘alaihissalam Turun Kembali Membawa Wahyu

Ibnu Hajar berkata: “Masa stagnan itu sungguh telah menghilangkan ketakutan yang telah dialami oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dan membuatnya bersemangat untuk kembali mengalaminya. Dan ketika hal ini benar terjadi dan beliau mulai menanti-nanti datangnya wahyu, maka datanglah malaikat Jibril ‘alaihissalam untuk kedua kalinya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah bahwasanya dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang masa stagnan itu, beliau bercerita: “Ketika aku tengah berjalan-jalan, tiba-tiba aku mendengar suara yang berasal dari langit, lalu aku mendongakkan pandangan ke arah langit, ternyata malaikat yang dulu mendatangiku ketika di gua Hira’ duduk diatas kursi antara langit dan bumi. Melihat hal itu aku terkejut hingga aku tersungkur ke bumi. Kemudian aku mendatangi keluargaku sembari berkata: ‘selimutilah aku! Selimutilah aku!’. Lantas mereka menyelimutiku, baru kemudian Allah menurunkah surat al-Muddatstsir;yaitu dari firmanNya; yaa ayyuhal muddatstsir….hingga firmanNya: …fahjur’. (Q.S. al-Muddatstsir: 1-5).

Setelah itu wahyu tetap terjaga dan datang secara teratur”. Dalam hadits yang shahih: ” Aku tinggal di dekat gua Hira’ selama sebulan; tatkala aku sudah selesai melakukan itu, maka aku turun gunung. Dan ketika aku sampai ke sebuah lembah dan aku dipanggil oleh seseorang…”. Kemudian (teks hadits selanjutnya-red) beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan (cerita) sebagaimana yang telah dikemukakan diatas yang intinya; bahwa ayat tersebut turun setelah sempurnanya beliau menyertai bulan Ramadhan dan dengan begitu, artinya masa stagnan antara dua wahyu tersebut berlangsung selama sepuluh hari sebab beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak sempat lagi menyertai Ramadhan berikutnya setelah turunnya wahyu pertama.

Ayat-ayat tersebut merupakan permulaan dari masa kerasulan (risalah) beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam alias datang setelah masa kenabian (nubuwwah) yang berjarak selama masa stagnan turunnya wahyu. Ayat-ayat tersebut mengandung dua jenis taklif (pembebanan syara’) beserta penjelasan konsekuensinya.

Jenis pertama adalah mentaklif beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan penyampaian (al-Balagh) dan peringatan (at-Tahzir) saja. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “bangunlah! Lalu berilah peringatan” (Surat al-Muddatstsir:2); makna ayat ini adalah agar beliau memperingatkan manusia akan azab Allah atas mereka jika mereka tidak bertaubat dari dosa, kesesatan, beribadah kepada selain Allah Yang Maha Tinggi serta berbuat syirik kepadaNya dalam zat, sifat-sifat, hak-hak dan perbuatan-perbuatan.

Jenis kedua adalah mentaklif beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan penerapan perintah-perintah Allah Ta’ala terhadap zatNya dan komitmen terhadapnya dalam jiwa beliau agar mendapatkan keridhaan Allah dan menjadi suri teladan yang baik bagi orang yang beriman kepada Allah. Hal ini tercermin pada ayat-ayat berikutnya. FirmanNya Ta’ala: “dan Rabb-mu agungkanlah!”(al-Muddatstsir: 3); maknanya adalah khususkanlah Dia Ta’ala dengan pengagungan dan janganlah menyekutukanNya dengan seseorangpun.

Dan firmanNya: “dan pakaianmu bersihkanlah!” (al-Muddatstsir:4); makna lahiriyahnya adalah menyucikan/membersihkan pakaian dan jasad sebab tidaklah layak bagi orang yang mengagungkan Allah dan menghadapNya dalam kondisi dilumuri oleh najis dan kotor. Jika saja kesucian/kebersihan ini dituntut untuk dilakukan maka kesucian/kebersihan diri dari virus-virus syirik, pekerjaan dan akhlak yang hina tentunya lebih utama untuk dituntut.

Dan firmanNya: “dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah!” (al-Muddatstsir:5) ; maknanya adalah jauhkanlah dari sebab-sebab turunnya kemurkaan Allah dan azabNya, dan hal ini direalisasikan melalui komitmen untuk ta’at kepadaNya dan meninggalkan maksiat.

Sedangkan firmanNya: “dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak!” (al-Muddatstsir: 6); yakni janganlah kamu berbuat baik dengan menginginkan upah dari manusia atasnya atau balasan yang lebih utama di dunia ini.

Adapun makna ayat terakhir (yang diturunkan saat itu kepada beliau-red); didalamnya terdapat peringatan akan adanya gangguan dari kaumnya ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berbeda agama dengan mereka, mengajak mereka kepada Allah semata dan memperingatkan mereka akan azab dan siksaanNya; yaitu dalam firmanNya: “dan untuk memenuhi (perintah Rabb-mu) bersabarlah!” (al-Muddatstsir: 7).


Permulaan ayat-ayat tersebut (surat al-Muddatstsir) berbicara tentang panggilan langit nan agung –terekam dalam suara Yang Maha Besar dan Maha Tinggi– yang mengajurkan agar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan urusan yang mulia ini dan memerintahkannya agar mengenyahkan tidur, selimut dan berhangat-hangat guna menyongsong panggilan jihad, berjuang dan menempuh jalan penuh ranjau; ini tergambar dalam firmanNya: “Hai orang yang berselimut! bangunlah! Lalu berilah peringatan” (Surat al-Muddatstsir:2) .

Seakan-akan dikatakan (kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam): sesungguhnya orang yang hanya hidup untuk kepentingan dirinya saja, bisa saja hidup tenang dan nyaman sedangkan engkau yang memikul beban yang besar ini; apa gunanya tidur bagimu? Apa gunanya istirahat/refreshing bagimu? Apa gunanya permadani yang hangat bagimu? Apa gunanya hidup yang tenang bagimu? Apa gunanya kesenangan yang membuaikan bagimu? Bangunlah untuk melakukan urusan maha penting yang menunggumu dan beban berat yang disediakan untukmu! Bangunlah untuk berjuang, bergiat-giat, bekerja keras dan berletih-letih! Bangunlah! Karena waktu tidur dan istirahat sudah berlalu, dan tidak akan kembali lagi sejak hari ini; yang ada hanyalah mata yang meronda secara kontinyu, jihad yang panjang dan melelahkan. Bangunlah! Persiapkan diri menyambut urusan ini dan bersiagalah!.

Sungguh ini merupakan ucapan agung dan kharismatik yang (seakan) melucuti beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dari kehangatan permadani di suatu rumah yang nyaman dan pelukan yang suam untuk kemudian melemparkannya keluar menuju samudera luas yang diselimuti oleh deru ombak dan hujan yang mengguyur, (dan samudera) dimana terjadi tarik menarik yang membuat posisinya di hati manusia dan realitas hidup sama saja.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bangun dan tetap bangun setelah perintah itu selama lebih dari dua puluh tahun; tidak pernah beristirahat dan tidak pula hanya hidup untuk kepentingan dirinya dan keluarganya. Bangun dan tetap bangun diatas pondasi dakwah kepada Allah, mengembankan di pundaknya beban yang amat berat namun beliau tidak menganggapnya berat; beban amanah kubro di muka bumi ini, beban manusia secara keseluruhan, beban ‘aqidah secara keseluruhan, beban perjuangan dan jihad di medan-medan yang berbeda. Beliau hidup menghadapi pertempuran yang kontinyu selama lebih dari dua puluh tahun. Selama tenggang waktu ini, tidak satupun hal yang dapat membuatnya lengah, yaitu sejak beliau mendengar panggilan langit nan agung yang menyerahkan taklif yang begitu dahsyat untuk diembannya… semoga Allah membalas jasa beliau terhadap manusia secara keseluruhan dengan sebaik-baik imbalan.

Sekilas ulasan tentang urutan kronologi turunnya wahyu

Sebelum beranjak ke penjelasan detail mengenai kehidupan di bawah naungan risalah dan nubuwwah, kami melihat perlu kita mengetahui urutan kronologi turunnya wahyu yang merupakan sumber risalah dan tinta dakwah. Ibnu al-Qayyim berkata, ketika menyinggung urutan kronologi turunnya wahyu tersebut:

Pertama, berupa ar-Ru’ya ash-Shaadiqah (mimpi yang benar); ini merupakan permulaan turunnya wahyu kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kedua, berupa sesuatu yang ditimbulkan oleh malaikat terhadap rau’ (hati yang ketakutan, akal) dan hatinya tanpa dapat melihatnya; hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam : “Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril ‘alaihissalam) menghembuskan ke dalam hatiku (yang diliputi ketakutan) bahwasanya jiwa tidak akan mati hingga disempurnakan rizki baginya. Oleh karena itu, bertakwalah kalian kepada Allah, berindah-indahlah dalam meminta serta janganlah keterlambatan rizki atas kalian mendorong kalian untuk memintanya dengan cara melakukan perbuatan maksiat kepadaNya, karena sesungguhnya apa yang ada disisi Allah tidak akan didapat kecuali dengan berbuat ta’at kepadaNya”.

Ketiga, berupa malaikat yang berwujud seorang laki-laki; lantas dia mengajak beliau berbicara hingga mengingat dengan jelas apa yang dikatakan kepadanya. Dalam urutan ini, terkadang para shahabat melihat malaikat tersebut.

Keempat, berupa bunyi gemerincing lonceng yang datang kepada beliau; peristiwa ini merupakan pengalaman yang paling berat bagi beliau dimana malaikat memakai cara ini hingga membuat keningnya mengerut bersimbah peluh. Ini terjadi di hari yang amat dingin. Demikian pula, mengakibatkan onta beliau duduk bersimpuh ke bumi bila beliau menungganginya. Dan pernah juga wahyu datang seperti kondisi tersebut dan saat itu paha beliau ditaruh diatas paha Zaid bin Tsabit yang seketika dirasakan olehnya (Zaid) demikian berat sehingga hampir saja remuk.

Kelima, berupa malaikat dalam bentuk aslinya yang dilihat langsung oleh beliau, lalu diwahyukan kepada beliau beberapa wahyu yang dikehendaki oleh Allah; peristiwa seperti ini dialami oleh beliau sebanyak dua kali sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam surat an-Najm.

Keenam, berupa wahyu yang diwahyukan kepada beliau; yaitu saat beliau berada diatas lelangit pada malam mi’raj , diantaranya ketika diwajibkannya shalat dan lainnya.

Ketujuh, berupa Kalamullah kepada beliau (dariNya kepadanya) tanpa perantaraan malaikat sebagaimana Allah berbicara kepada Musa bin ‘Imran; peristiwa seperti ini terjadi dan diabadikan secara qath’i berdasarkan nash al-Qur’an. Sedangkan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terjadi dalam hadits yang berbicara tentang Isra’.

Sebagian para ulama menambah urutannya menjadi delapan, yaitu; Allah berbicara kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam secara langsung tanpa hijab; ini merupakan permasalahan yang diperdebatkan oleh ulama Salaf dan Khalaf. Demikian, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu al-Qayyim dengan sedikit diringkas dalam penjelasan tentang urutan pertama dan kedelapan. Pendapat yang benar, bahwa urutan terakhir ini (kedelapan) tidak tsabit (valid dan dipercaya keabsahan riwayatnya-red).

Dakwah nabi Muhammad saw dibagi menjadi 2 yaitu .

A. DAKWAH SECARA SENBUNYI - SEMBUNYI

Tiga Tahun Dakwah Secara Sembunyi-sembunyi.Sebagaimana yang sudah diketahui, Makkah merupakan sentral agama Bangsa Arab. Di sana ada peribadatan terhadap Ka’bah dan penyembahan terhadap berhala dan patung-patung yang disucikan seluruh Bangsa Arab. Cita-cita untuk memperbaiki keadaan mereka tentu bertambah sulit dan berat jika orang yang hendak mengadakan perbaikan jauh dari lingkungan mereka. Hal ini membutuhkan kemauan keras yang tidak dapat diguncang musibah dan kesulitan. Maka dalam menghadapi kondisi seperti ini, tindakan yang paling bijaksana adalah memulai dakwah dengan sembunyi-sembunyi, agar penduduk Makkah tidak kaget karena tiba-tiba menghadapi sesuatu yang menggusarkan mereka.

Kawanan Pertama

Sangat lumrah jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menampakkan Islam pada awal mulanya kepada orang yang paling dekat dengan beliau, anggota keluarga dan sahabat-sahabat karib beliau. Beliau menyeru mereka ini kepada Islam, juga menyeru siapapun yang dirasa memiliki kebaikan, yang sudah beliau kenal secara baik dan mereka pun mengenal beliau secara baik. Mereka yang memang diketahui mencintai kebaikan dan kebenaran, dan mereka mengenal kejujuran dan kelurusan beliau.

Maka mereka yang diseru ini langsung memenuhi seruan beliau, karena mereka sama sekali tidak menyangsikan keagungan diri beliau dan kejujuran pengabaran yang beliau sampaikan. Dalam Tarikh Islam, mereka dikenal dengan sebutan As-Sabiqunal-Awwalun (yang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam). Mereka adalah : istri beliau (Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid), pembantu beliau (Zaid bin Haritsah bin Syurahbil Al-Kalby), anak paman beliau ( Ali bin Abu Thalib, yang saat itu Ali masih anak-anak dan hidup dalam asuhan beliau), dan sahabat karib beliau (Abu Bakar Ash-Shiddiq). Mereka ini masuk Islam pada hari pertama dimulainya dakwah.

Abu Bakar sangat bersemangat dalam berdakwah kepada Islam. Dia adalah seorang laki-laki yang lemah lembut, pengasih dan ramah, memiliki akhlak yang mulia dan terkenal. Kaumnya suka mendatangi Abu Bakar dan menyenanginya, karena dia dikenal sebagai orang yang memiliki pengetahuan dan sukses dalam berdagang serta baik pergaulannya dengan orang lain. Maka dia menyeru orang-orang dari kaumnya yang biasa duduk-duduk bersamanya dan yang dapat dipercayainya. Berkat seruannya, ada beberapa orang yang masuk Islam, yaitu Utsman bin Affan Al-Umawy, Az-Zubair bin Al-Awwan Al-Asady, Abdurrahman bin Auf, Sa’d bin Abi Waqqash Az-Zuhriyah dan Thalhah bin Ubaidillah At-Taimy. Mereka ini adalah orang-orang yang lebih dulu masuk Islam, kawanan pertama dan fajar islam.

Kawanan lain yang juga lebih dahulu masuk Islam adalah Bilal bin Rabbah Al-Habsyi, kemudian disusul kepercayaan umat ini, Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah dari Bani Al-Harits bin Fihr, Abu Salamah bin Abdul-Asad, Al-Arqam bin Abil-Arqam Al-Makhzumy, Utsman bin Mazh’un dan kedua saudaranya, Qudamah dan Abdullah, Ubaidah bin Al-Harits bin Al-Muththalib bin Abdi Manaf, Sa’id bin Zaid Al-Adawy dan istrinya Fathimah binti Al-Khaththab Al-Adawiyah, saudara Umar bin Al-Khaththab, Khabbab bin Al-Aratt, Abdullah bin Mas’ud Al-Hudzaly dan masih banyak lagi. Mereka ini juga disebut As-Sabiqunal-Awwalun, yang semuanya berasal dari kabilah Quraisy. Ibnu Hisyam menghitung jumlah mereka lebih dari empat puluh orang. Namun siapa-siapa yang selain disebutkan di atas perlu diteliti lagi.

Ibnu Ishaq berkata, “Setelah itu banyak orang yang masuk Islam, baik laki-laki maupun wanita, sehingga nama Islam menyebar di seluruh Makkah dan banyak membicarakannya.”

Mereka masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menemui mereka dan mengajarkan agama secara kucing-kucingan. Sebab dakwah itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan secara perorangan. Wahyu diturunkan sedikit demi sedikit lalu berhenti setelah turunnya surat Al-Muddatstsir. Ayat-ayat dan potongan surat yang turun saat itu berupa ayat-ayat pendek, dengan penggalan-penggalan kata yang indah menawan dan sentuhan lembut, sesuai dengan iklim yang juga lembut pada saat itu, berisi sanjungan mensucikan jiwa dan celaan mengotorinya dengan keduniaan, berisi ciri-ciri surga dan neraka, yang seakan-akan keduanya tampak di depan mata, membawa orang-orang Mukmin ke dunia lain tidak seperti dunia yang ada pada saat itu.

Shalat

Di antara wahyu yang pertama-tama turun adalah perintah shalat. Muqatil bin Sulaiman berkata, “Allah mewajibkan shalat dua rakaat pada pagi hari dan dua rakaat pada petang hari pada masa awal Islam, yang didasarkan pada firman Allah ; Artinya : “Dan bertasbilah seraya memuji Rabbmu pada waktu pagi dan petang.” (Al-Mukminun:55).

Ibnu Hajar menuturkan, sebelum Isra’ Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sudah pernah shalat, begitu pula para shahabat. Tapi terdapat perbedaan pendapat, adakah shalat yang diwajibkan sebelum ada kewajiban shalat lima waktu ataukah tidak? Ada yang berpendapat, yang diwajibkan pada masa itu adalah shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya matahari.

Al-Harits bin Usamah meriwayatkan dari Jalan ibnu Luhai’ah secara maushul dari Zaid bin Haritsah, bahwa pada awal-awal turunnya, Jibril mendatangi Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam dan mengajarkan wudhu kepada beliau. Seusai wudhu’, beliau mengambil seciduk air lalu memercikkan ke kemaluan. Ibnu Majah juga meriwayatkan hal ini dengan makna yang serupa. Juga diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib dan Ibnu Abbas di dalam hadits Ibnu Abbas, dan hal itu termasuk kewajiban yang pertama diturunkan.

Ibnu Hisyam menyebutkan, jika tiba waktu shalat, Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat pergi ke tempat yang terpencil lalu secara sembunyi-sembunyi mengerjakan shalat, agar tidak dilihat kaumnya. Suatu kali Abu Thalib melihat Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat bersama Ali. Maka Abu Thalib menanyakan shalat itu. Setelah mendapat penjelasan yang cukup memuaskan, Abu Thalib menyuruh beliau dan Ali agar menguatkan hati.

Orang-orang Quraisy Mendengar Kabar Secara Global

Setelah melihat beberapa kejadian di sana sini, ternyata dakwah Islam sudah didengar orang-orang Quraisy pada tahapan ini, sekalipun dakwah itu masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan perorangan. Namun mereka tidak ambil peduli.

Muhammad Al-Ghazaly menuturkan, kabar tentang dakwah Islam ini sudah mulai menyebar di kalangan orang-orang Quraisy, namun mereka tidak ambil peduli. Sebab mereka mengira bahwa Muhammad hanya salah seorang di antara mereka yang peduli terhadap urusan agama, yang suka berbicara tentang masalah ketuhanan dan hak-haknya, seperti yang biasa dilakukan Umayyah bin Ash-Shallat, Qus bin Sa’idah, Amr bin Nufail dan orang-orang yang lain. Tapi lama-kelamaan ada pula perasaan khawatir yang mulai menghantui mereka karena pengaruh tindakan beliau. Oleh karena itu mereka mulai menaruh perhatian terhadap dakwah beliau.

Selama tiga tahun dakwah masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan perorangan. Selama jangka waktu itu telah terbentuk sekelompok orang-orang Mukmin yang senantiasa menguatkan hubungan persudaraan dan saling bahu membahu. Penyampaian dakwah terus dilakukan, hingga turun wahyu yang mengharuskan Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam menampakkan dakwah kepada kaumnya, menjelaskan kebatilan mereka dan menyerang berhala-berhala sesembahan mereka.

B. DAKWAH TERANG-TERANGAN

Ibnu Ishaq berkata, “Orang-orang memeluk Islam secara bergelombang, baik laki-laki maupun wanita, sehingga berita tentang Islam tersebar luas di kota Makkah, dan Islam menjadi bahan pembicaraan. Setelah itu Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan Rasul-Nya menyampaikan Islam dan mengajak manusia secara terang-terangan, menampakkan perintah Allah kepada manusia, sekaligus mengajak mereka kepada-Nya…”
Ibn Ishaq berkata lagi. “Lalu Allah Swt. berfirman kepada Rasulullah saw:

]فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ[
Sampaikanlah olehmu secara terang-etrangan segala yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. (QS al-Hijir [15]: 94).

Allah Swt. juga berfirman:

]وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ% وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ% فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ[
Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu, katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kalian kerjakan.” (QS asy-Syu’ara [26]: 214-216).

Tatkala Rasulullah saw. memperlihatkan Islam secara terang-terangan kepada kaumnya dan menampakkan perintah Allah kepada mereka secara terbuka, saat itu orang-orang Quraisy tidak mengutuk beliau dan tidak memberikan reaksi, kecuali ketika suatu saat beliau menyebut-nyebut tuhan-tuhan mereka dan menghinanya. Tatkala beliau melakukan hal itu, seketika mereka menjadikan persoalan tersebut sebagai persoalan yang besar; mereka menentangnya.” (Ibn Hisyam, Sîrah an-Nabî, jld. I/274-276).

Pelajaran yang Dapat Dipetik
Pertama, dakwah Islam, maupun dakwah yang menyerukan ideologi tertentu atau mengajak manusia melakukan proses perubahan di tengah-tengah masyarakat  haruslah disampaikan secara terang-terangan, meskipun pada tahap awalnya diserukan secara sembunyi-sembunyi (rahasia).
Tahap dakwah secara terang-terangan adalah tahap yang harus dan wajib dilalui oleh para pengemban dakwah Islam, termasuk harakah dakwah Islam, apapun risikonya. Sebab, target dasar dari dakwah secara terang-terangan ini adalah membongkar berbagai persepsi batil, sistem hukum kufur/thâghût, adat-istiadat sesat, serta perasaan keliru dan telah mendarah daging di tengah masyarakat. Caranya adalah dengan membangun opini umum tentang Islam di tengah-tengah mereka. Dengan begitu, masyarakat akan sadar dan mengerti tentang kesesatan dan kekeliruan yang selama ini mereka praktikkan dan yakini. Pada gilirannya, mereka akan menyingkirkan semua itu seraya membangun persepsi, sistem, kebiasaan, dan perasaan baru yang berdasarkan Islam.

Kedua, firman Allah (QS al-Hijir [15]: 94) di atas menunjukkan perintah untuk menyampaikan Islam secara terang-terangan. Artinya, para pengemban dakwah maupun harakah dakwah Islam tidak bisa memperhalus atau menyembunyikan al-haq di hadapan masyarakat dengan tujuan untuk menghindari kebinasaan atau motivasi buruk lainnya. Sebab, kalimat berikutnya, wa a‘ridh ‘an al-musyrikîn bermakna, berpalinglah dari orang-orang yang memasang halangan/rintangan dalam penyampaian dakwah (tablig), dan jangan lagi mempedulikan mereka (al-Qasimi, Mukhtashar min Mahâsin at-Ta‘wîl, hlm. 267). Dengan kata lain, reaksi negatif masyarakat terhadap dakwah Islam tidak boleh menyurutkan langkah dakwah, apalagi menyimpulkan bahwa ‘isi’ dakwah Islam itu tidak sesuai sehingga perlu dikemas sesuai dengan tuntutan masyarakat.
Ketiga, dari petikan sirah dakwah Rasulullah saw. di atas, ada fenomena menarik, yakni bahwa dakwah secara terang-terangan pada mulanya tidak terlalu diperhatikan oleh masyarakat kafir Quiraisy, karena mereka beranggapan, tidak ada sesuatu yang ‘membahayakan’ ideologi/keyakinan mereka; tidak mengorek-ngorek kedudukan para pemimpin mereka; tidak menggugat kemapanan sistem dan adat istiadat mereka. Namun, Rasulullah saw. kemudian menyampaikan firman Allah Swt.:
]إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ[
Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah (berhala) adalah umpan Jahanam; kalian pasti masuk ke dalamnya. (QS al-Anbiya [21]: 98).

Ketika disampaikan ayat di atas, barulah orang-orang kafir Quraisy melakukan penentangan terhadap Rasulullah saw dan para sahabatnya serta dakwah Islam. Sejak saat itu orang-orang kafir mengetahui tujuan dakwah Rasulullah saw, yaitu melakukan perubahan di tengah-tengah masyarakat hingga Islam tegak sebagai sebuah institusi politik, hukum, dan kepemimpinan di dunia. Sejak saat itu pula dimulai pergulatan politik dan pertarungan pemikiran antara Islam dan kekufuran, antara yang haq dan yang batil.
Oleh karena itu, sekali memasuki dakwah secara terang-terangan (dawr al-I‘lan) dan memproklamirkan tentang tujuan-tujuan dakwah serta mengajak masyarakat melakukan perubahan fundamental, langkah dakwah tidak akan dan tidak boleh surut kembali ke belakang. Dakwah secara terang-terangan merupakan tahap dakwah yang paling berat, paling keras, paling menakutkan. Sebab, kebenaran dan kebatilan berhadap-hadapan secara frontal; tidak ada sesuatu yang bisa dikompromikan di antara keduanya. Ini adalah tahap interaksi dan perjuangan (marhalah at-tafâ‘ul wa al-kifâh). Kaum kafir mulai memerangi dakwah Islam dan para pengembannya dengan segala cara.
Sebagaimana dipahami, seluruh dunia saat ini, termasuk Dunia Islam, sedang berada dalam kungkungan ideologi, sistem, pemikiran, dan perasaan-perasaan kufur. Artinya, yang dihadapi oleh dakwah Islam dan para pengembannya saat ini adalah kekufuran yang bersifat global. Dengan demikian, amat keliru jika para pengemban dakwah menempatkan sistem kufur dan ideologi kufur pada skala sempit sehingga perjuangan dakwah pun hanya berada pada skala regional atau lokal. Sebab, kekufuran dan para penganutnya di seluruh dunia pun akan berhadap-hadapan dengan dakwah Islam dan para pengembannya sebagai kekuatan yang amat dahsyat. Namun,  semua itu bagi para pengemban dakwah bukanlah sesuatu yang mengkhawatirkan, bukanlah sesuatu yang layak memalingkannya dari kewajiban dakwahnya, atau yang menyebabkan bergesernya arah dakwah.

Rabu, 18 Januari 2012

RESENSI NOVEL LASKAR PELANGI


TUGAS BAHASA INDONESIA
RESENSI NOVEL
“LASKAR PELANGI”
PENGARANG NOVEL
“ANDREA HIRATA”







PENULIS RESENSI
“YUSUF ILHAM AKBAR”
KELAS
“XI IPA 5”



SMA NEGERI 3 KOTABUMI
LAMPUNG UTARA

RESENSI NOVEL

A.     Judul Novel Resensi : Laskar Pelangi

B.     Data Buku
a)      Judul novel adalah Laskar Pelangi
b)      Pengarang adalah Andrea Hirata
c)      Diterbitkan oleh Penerbitan Bentang Anggota IKAPI ( PT. Bentang Pustaka )
d)      Diterbitkan Februari 2008 dan cetakan ke-18
e)      Tebal buku 20.5 cm, 34 bab, 534 halaman
f)       Harga novel adalah Rp 40.000
g)      Warna novel yang dominan adalah hitam dan ada warna merah jambu serta biru

C.     Pembukaan
Biografi Pengarang
      Andrea Hirata lahir di Belitong. Meskipun studi mayornya ekonomi, ia amat menggemari sains fisika, kimia, biologi, dan astronomi, tentu saja sastra. Edensor adalah novel ketiganya setelah novel-novel best seller Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademis dan backpacker. Sekarang ia tengah mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya. Andrea berpendidikan ekonomi dari Universitas Indonesia. Ia mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science di Universitas de Paris Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia lulus cum claude. Tesis itu telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi ilmiah. Saat ini Andrea tinggal di Bandung dan masih bekerja di kantor pusat PT. Telkom. Hobinya naik komidi putar. Komunikasi dengan Andrea dapat melalui www.sastrabelitong.multiply.com















Unsur Intrinsik Novel
LATAR
1.      Latar Tempat

·         Di depan kelas ( sekolah ) : Pagi itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas
·         Di dam : Aku pernah melihat kurap itu ketika kami ramai – ramai mandi di dam tempo hari
·         Di sekolah : … kami menuliskan nama ketua kelas baru yang kami inginkan. Esoknya di sekolah Lintang heran melihat kami yang kebingungan dengan persoalan jurusan tiga angka.
·         Di bawah pohon filicium : … Sahara dan Harun duduk berdua di bawah pohon filicium
·         Di jalan : “ Aku tak bisa melintas. Seekor buaya sebesar pohon kelapa tak mau beranjak, menghalang di tengah  jalan… “
·         Di beranda rumah Lintang : Di beranda rumahnya beliau merasa takjub mengamati rangkaian kata dan terkagum – kagum tulis baca-tulisdapat mengubah masa depan seseorang.
·         Di atas pohon filicium : Kucai mengangkangi dahan tertinggi, sedangkan Sahara, satu-satunya betina dalam kawanan itu, bersilang kaki di atas dahan terendah.
·         Di dalam parit : Lalu aku mencari Syahdan. Ia terbaning agak jauh dariku. Tubuhnya terlentang, tergeletak tak berdaya, air menggenangi setengah tubuhnya di dalam parit. Ia tak bergerak.
·         Di punggung bukit : Saat sore menjelang, aku senang belama-lama duduk sendiri di punggung bukit ini.
·         Di kebun bunga : Aku selalu tergesa-gesa menyirami bunga biar tugas itu cepat selesai….
·         Di Toko Sinar Harapan : Sesampainya di sana – di sebuah toko yang sesak di kawasan kumuh pasar ikan yang becek-jika perut tidak kuat, siapa pun akan muntah ….
·         Di karnaval 17 Agustus : Tanpa marching band sekloah PN, karnaval 17 Agustus akan kehilangan jiwanya.
·         Di masjid : Tidur di ruang utama masjid adalah sebuah pelanggaran. Kami seharusnya tidur di belakang, di ruangan beduk dan usungan jenazah.
·         Di halaman sekolah : Persis pukul 8.50 kami sampai di halaman sekolah.
·         Di hutan : … dan ratusan orang kampong tumpah ruah mencarinya di tengah hutan lebat ribuan hectare yang melingkupi lereng gunung itu. Kami sekelas termasuk di dalamnya.
·         Di kuburan : Ketika pulang, kami bergandengan tangan. Ketika kami melewati kuburan, tangan Trapani sedingin es.
·         Di lomba cerdas cermat : Suasana semakin tegang ketika ketua dewan juri bangkit dari tempat duduknya, memperkenalkan diri, dan menyatakan lomba dimulai.

2.      Latar suasana

·         Tegang
Aku juga merasa cemas. Aku merasa cemas karena melihat Bu Mus yang resahdan karena beban perasaan ayahku menjalar ke sekujur tubuhku. Meskipun beliau begitu ramah pagi ini tapi lengan kasarnya yang meligkari leherku mengalirkan degup jantung yang cepat.



·         Mengharukan ( menyedihkan )
Ibunda guru,
Ayahku telah meninggal, besok aku akan ke sekolah.
Salamku, Lintang
Di bawah pohon filicium kami akan mengucapkan perpisahan. Aku hanya diam. Hatiku kosong. Perpisahan belum dimulai tapi Trapani sudah menangis terisak-isak.
·         Bahagia
“ Genap sepuluh orang …,” katanya.
Harun telah menyelamatkan kami dan kami pun bersorak.

3.      Latar Waktu

·         Pagi hari : Pagi itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas.
·         Siang hari : Dan di siang yang panas menggelegak ini, ketika pelajaran seni suara, di salah satu sudut kumuh perguruan miskin Muhammadiyah, kami menjadi saksi bagaimana nasib menemukan bakat Mahar.
·         Pukul 3.55 : Sudah 25 menit aku mematung di sini, tak ada tanda-tanda kehadiran A Ling.
·         Pukul 3.57 : Sekarang sudah pukul 3.57, tiga menit menjelang tenggat waktu.
·         Senin pagi : SENIN pagi yang cerah. Sepucuk puisi dibungkus kertas ungu bermotif kembang api…
·         Sebulan yang lalu : Sebulan yang lalu seluruh kampong heboh karena Flo hilang.
·         Menjelang sore : Menjelang sore sebuah lampu sorot besar yang biasa dipakai di kapal keruk dibawa ke lereng gunung untuk memudahkan tim penyelamat.

TOKOH dan PENOKOHAN

·         Aku sebagai Ikal          : baik dan penyayang
Bukti                            : Aku benci pada mereka yang berpesta pora di Gedong dan aku benci pada diriku sendiri yang tak berdaya menolong Lintang karena keluarga kami melarat dan orang tua-orang tua kami harus berjuang setiap hariuntuk sekadar menyambung hidup.
·         Lintang                                    : pintar, bijaksana, tidak egois, dan penyayang
Bukti                            : SEORANG anak laki-laki tertua keluarga pesisir miskin yang ditinggal mati ayah, harus menanggung nafkah ibu, banyak adik, kakek-nenek, dan paman-paman yang tak berdaya, Lintang tak punya peluang sedikit pun untuk melanjutkan sekolah.
Lintang masih tenang-tenang saja, ia tersenyum sedikit, santai sekali. “Terima kasih atas bentahan yang hebat ini, apa yang harus saya katakana, bidang saya adalah pendidikan moral Pancasila …,” kata ketua dewan juri.
·         A Kiong                       : cengeng
Bukti                            : Tangisan A Kiong nyaris merusak acara perkenalan yang menyenagkan pagi itu.
·         Borek                           : baik hati
Bukti                            : Borek rela menukar dulu bajunya dengan dengan baju Syahdan. Ia tak peduli kalau baju Borek kebesaran dan sebenarnya tak lebih bagus dari bajunya. Ada pula kemungkinan Borek kurapan,…
·         Syahdan                       : selalu menghargai orang lain dan tidak percaya diri
Bukti                            : Ia tak peduli kalau baju Borek kebesaran dan sebenarnya tak lebih bagus dari bajunya. Ada pula kemungkinan Borek kurapan,…
“Tapi sandal dan bajuku buruk sekali,” katnya dengan polos dan tahu diri sambil melipat karungkecampang yang dipakainya sebagai tas sekolah.
·         Kucai                           : kurang pintar,  dan tidak punya pendirian
Bukti                            : Kelemahannya adalah nilai-nilai ulangannya tidak pernah melampaui angka enam karena ia termasuk murid yang agak kurang pintar, bodoh yang diperhalus.
            Berulang kali Kucai menolak diangkat kembali menduduki jabatan itu (ketua kelas), namun setiap kali Bu Mus mengingatkan betapa mulianya menjadi seorang pemimipin, Kucai pun luluh dan dengan terpaksa bersedia menjabat lagi.
·         Trapani                                    : sedikit pendiam, pintar, dan patuh kepada orang tua
Bukti                            : Trapani agak pendiam, otaknya lumayan, dan selalu menduduki peringkat ketiga. Di sisi lain kami juga sering sering jengkel pada Trapani karena setiap kami punya “acara”,… Trapani harus meminta izin dulu pada ibunya.
·         Sahara                          : cantik, jujur,  pintar, penuh perhatian, kepala batu, dan temperamental
Bukti                            : Dia secantik grey cheeked green ,.. sifatnya yang utama : penuh perhatian dan kepala batu. Maka tak ada yang berani bikin gara-gara dengannya karena ia tak pernah segan mencakar. Jika marah ia akan mengaum dan kedua alisnya bertemu. Sahara sangat temperamental, tapi ia pintar. Peringkatnya bersaing ketat dengan Trapani.
·         Harun                          : mental sedikit terganggu dan tidak bisa menerima pelajaran
Bukti                            : Harun memiliki hobi mengunyah permen asam jawa dan sama sekali tidak bisa menangkap pelajaran membaca ata menulis. Jika Bu Mus menjelaskan pelajaran, ia duduk tenang dan terus-menerus tersenyum. Pada setiap pelajaran, pelajaran apa pun, ia akan mengacung sekali dan menanyakan pertanyaan sama, setiap hari, sepanjang tahun, ”Ibunda Guru, kapan kita akan libur lebaran?” “Sebentar lagi Anakku, sebentar lagi …,” jawab Bu Mus sabar,...
·         Mahar                          : pintar dalam seni
Bukti                            : Kami tersihir oleh aura seni yang terpancar dari sosok anak muda tampan yang menyanyi dari jiwanya, bukan hanya dari mulutnya, sehingga lagu itu menjadi sebuah simfoni yang agung.
·         Bu Mus                                    : berjiwa besar, pandai, karismatik, dan baik hati
Bukti                            : Bu Mus,… beliau bertekad … untuk terus mengobarkan pendidikan Islam. Tekad itu memberinya kesulihatan hidup yang tak terkira, karena kami kekurangan guru – lagi pula siapa yang rela diupah beras 15 kg setiap bulan?...
BU MUS adalah seorang guru yang pandai, karismatik, dan memiliki pandangan jauh ke depan. Beliau sendiri menyusun sendiri silabus pelajaran …
·         Pak K.A Harfan Efendy Noor : baik hati dan pintar merebut hati oang lain
Bukti                                        : Anak kecil yang tak kuat mental bisa-bisa langsung terkena sawan. Namun, ketika beliau angkat bicara, tak dinyana, meluncurlah mutiara-mutiara nan puitis sebagaiprolog penerimaan selamat datang penuh atmosfer sukacita di sekolahnya yang sederhana. Kemudian dalam waktu yang amat singkat beliau telah merebut hati kami.
·         Flo                               : suka dengan berpetualang dan tidak malu beteman dengan siapa saja                                                                                                                                (rendah hati )
Bukti                            : …Flo adalah petualang sejati. Ia kurang tertarik dengan aspek ilmu dan keyakinan dalam kejadian-kejadian mistik…
Para pelajar PN yang menganggap Flo pengkhianat melirik kejam padanya, tapi seperti Lintang, Flo juga tak peduli. Walaupun besar sekali kemungkinan tim kami dipermalukan oleh kecerdasan tim PN dalam lomba ini, tapi Flo tak ragu sedikit pun membela habis-habisan sekolahnya, sekolah kampong Muhammadiyah.
·         Drs. Zulfikar                : Sombong
Bukti                            : Pria ini adalah seorang fresh graduate yang sombong, ia memperlihatkan karakter manusia sok pintar yang baru tahu dunia. Ia menutip buku asing di sana sini tak keruan, menggunakan istilah-istilah aneh karena ingin mengesankan dirinya luar biasa.

TEMA

Temanya adalah perjuangan menggapai impian dengan segala keterbatasan atau keterbatasan tidak menghambat untuk kita meraih cita-cita

ALUR

Alurnya adalah maju, sebab novel ini menceritakan kisah perjuangan mereka sejak dari SD kelas 1 sampai mereka Dewasa

SUDUT PANDANG

Sudut pandangnya adalah orang pertama, pelaku utama, bukti cerita : PAGI itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas. Ini membuktikan bahwa novel ini menggunakan sudut pandang aku sebagai pelaku utama.

AMANAT

Amanatnya bahwa kita harus mempunyai mimpi setinggi mungkin, jangan pernah malas untuk belajar meskipun keadaan kita tidak memadai, jangan pernah merasa kita sebagai orang yang paling pintar, sesungguhnya masih banyak orang yang lebih pintar dari kita. Jadilah orang yang selalu belajar di mana saja dan dengan siapa saja, sesungguhnya ilmu itu ada di mana pun asalkan kita punya tekad, usaha, dan tak lupa disertai dengan doa.










UNSUR EKSTRINSIK

Nilai Budaya
            Adanya pengenalan tentang budaya dari luar yaitu Afrika
Bukti : “kalian akan tampil dala koreogafi massal suku Masai dari Afrika!” kata Mahar
Nilai Sosial

      Adanya pengorbanan yang tanpa pamrih sebagai guru yaitu Pak Harfan dan Bu Muslimah, mereka ingin mengajarkan anak-anak yang kurang mampu di Belitong
Bukti          :  Hari-hari di sekolah ini kami diajarkan dan didik oleh Bu Mus dan Pak Harfan yang menurutku merekalah pahlawan tanda jasa yang sebenarnya, mereka rela tidak di gaji, mereka hanya diberikan 15 kg beras setiap bulannya.

Nilai Pendidikan

      Adanya semangat ingin belajar walaupun dengan segala kekurangan yang ada di sekolah Muhammadiyah.
Bukti          : Di suatu pagi yang cerah aku dan ayahku duduk berdua di depan kelas, di hadapan kami pun banyak orang tua dan anaknya yang sedang duduk menunggu waktu di mulainya sekolah, hari ini adalah hari pertama aku dan anak – anak lainnya bersekolah. Sekolah ini bernama sekolah muhammadiyah, sekolah ini tak seperti sekolah lainnya, sekolah ini adalah sekolah yang sangat tua dan bangunannya pun sudah sangat buruk. Pada saat itu wajah Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala sekolah dan seorang wanita muda berjilbab, Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus, sang guru terlihat sedang sangat cemas. Ternyata mereka sedang cemas, karena melihat pendaftar siswa baru di sekolah muhammadiyah hanya berjumlah 9 orang, dan mereka harus bisa mendapatkan minimal 10 orang, jika tidak dapat memenuhinya maka sekolah ini akan di tutup. Setelah berapa lama kami menunggu waktu menunjukkan pukul 11 kurang 15, dan batas waktu pun sudah hampir habis, Pak Harfan pun sudah bersiap untuk memberikan pidato pembubaran sekolah yang menjadi harapan satu-satunya diriku dan teman-teman ku yang lain, Sahara temanku pun menangis terisak-isak, ia sangat ingin bersekolah di sekolah ini.

Nilai Agama
      Adanya sebuah keajaiban dimana seorang yang tidak tahu agama dan pendusta agama, ia mendapatkan sebuah magfirah dari Allah, sehingga ia menjadi muslim
Bukti          : A Kiong yang dulu pendusta agama ini, ia telah dipilih oleh Allah untuk masuk Islam







Sinopsis

Disuatu pagi di SD Muhammadiyah, pada saat itu adalah hari penerimaan siswa baru, terlihat kecemasan di wajah bu Muslimah dan pak Farfan yaitu guru dan kepala sekolah dari sekolah itu, itu disebabkan oleh terancamnya sekolah itu akan ditutup, jika SD Muhammadiyah tidak bisa menerima siswa minimal 10 orang maka sekolah itu akan ditutup. Pada saat itu murid yang mendaftar baru 9 orang, mereka masih kurang 1 murid lagi, mereka terus menunggu hingga pada akhirnya ketika pak Farfan akan membacakan pidato penutupan sekolah Muhammadiyah ini, tiba – tiba datang lah seorang anak dari kejauhan dengan berlari yaitu Harun, dengan itu maka sekolah Muhammaddiyah bebas dari penutupan itu. 10 murid itu adalah Ikal, Lintang, Kucai, Borek, A Kiong, Mahar, Harun, Sahara, Syahdan, dan Trapani.
            Sekolah Muhammadiyah adalah sekolah paling tua di  Belitong, sekolah ini sungguh tak layak bila dibilang sekolah karena sekolah ini sudah banyak kerusakan dimana-mana. Meskipun sekolah ini sangat miskin tetapi semua murid yang bersekolah di SD ini mempunyai semangat dan cita – cita yang tinggi.
            Pada saat hari kemerdekaan diadakan sebuah karnaval, SD Muhammadiyah pun mengikutinya yang tampil dengan sebuah kesederhaan, meskipun begitu mereka sangat kreatif yaitu dengan menampilkan sebuah tarian yang akhirnya membuat mereka menjadi juara pada karnaval tersebut, semua orang bertepuk tangan atas penampilan mereka yang sangat memukau, semua ide itu berasal dari seorang anak yang sangat cerdas dalam kesenian yaitu Mahar. Mereka sangat bahagia dan bangga atas kemenangan itu, tetapi itu belum membuat mereka puas. Suatu hari diadakan lomba cerdas cermat, SD Muhammadiyah diwakili oleh Sahara, Ikal,dan Lintang. Ketika pertanyaan – pertanyaan di ajukan kepada semua grup, Lintang pun selalu dapat menjawab pertanyaan – pertanyaan itu, itu pun membuat Sekolah Muhammadiyah menjadi pemenang dalam lomba cerdas cermat, mereka merasa bangga dan bahagia karena telah 2 kali mengalahkan sekolah PN Timah yang merupakan sekolah paling bagus di Belitong.
            Setelah kemenangan mereka tersebut, tiba-tiba Lintang seorang anak nelayan yang cerdas tidak pernah masuk sekolah lagi, lalu Lintang mengirim surat dan mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal sehingga ia tidak dapat sekolah lagi, karena harus menjaga dan menafkahi adik – adiknya. Ia juga mengatakan ia akan ke sekolah untuk mengucapakan salam perpisahan. Pada saat Lintang mengucapkan salam perpisahan, semua orang sangat sedih bahkan ada yang menangis. Tetapi itu tidak membuat semangat sahabat Lintang yaitu Ikal menjadi menurun untuk mencapai cita – citanya, akhirnya pun ia dapat terus berusaha menggapai cita – citanya dengan bersekolah di Universitas de Paris Sorbonne, Prancis, ia bersekolah dengan menggunakan beasiswa yang didapatnya. Ini membuktikan bahwa jika kita bersungguh – sungguh untuk menggapai suatu impian, maka impian kita itu akan terwujud, meskipun dengan sekolah yang penuh kekurangan dalam segala hal.
             
PENULIS RESENSI : YUSUF ILHAM AKBAR