TUGAS
BAHASA INDONESIA
RESENSI
NOVEL
“LASKAR
PELANGI”
PENGARANG
NOVEL
“ANDREA
HIRATA”
PENULIS
RESENSI
“YUSUF
ILHAM AKBAR”
KELAS
“XI
IPA 5”
SMA
NEGERI 3 KOTABUMI
LAMPUNG
UTARA
RESENSI
NOVEL
A.
Judul
Novel Resensi : Laskar Pelangi
B.
Data
Buku
a)
Judul
novel adalah Laskar Pelangi
b)
Pengarang
adalah Andrea Hirata
c)
Diterbitkan
oleh Penerbitan Bentang Anggota IKAPI ( PT. Bentang Pustaka )
d)
Diterbitkan
Februari 2008 dan cetakan ke-18
e)
Tebal
buku 20.5 cm, 34 bab, 534 halaman
f)
Harga
novel adalah Rp 40.000
g)
Warna
novel yang dominan adalah hitam dan ada warna merah jambu serta biru
C.
Pembukaan
Biografi Pengarang
Andrea Hirata lahir di Belitong. Meskipun
studi mayornya ekonomi, ia amat menggemari sains fisika, kimia, biologi, dan
astronomi, tentu saja sastra. Edensor adalah
novel ketiganya setelah novel-novel best
seller Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Andrea lebih mengidentikkan dirinya
sebagai seorang akademis dan backpacker. Sekarang
ia tengah mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye Gompa, desa
tertinggi di dunia, di Himalaya. Andrea berpendidikan ekonomi dari Universitas
Indonesia. Ia mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science di Universitas de Paris Sorbonne, Prancis dan
Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea di bidang ekonomi
telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia
lulus cum claude. Tesis itu telah
diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi
telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah
beredar sebagai referensi ilmiah. Saat ini Andrea tinggal di Bandung dan masih
bekerja di kantor pusat PT. Telkom. Hobinya naik komidi putar. Komunikasi
dengan Andrea dapat melalui www.sastrabelitong.multiply.com
Unsur
Intrinsik Novel
LATAR
1. Latar Tempat
·
Di
depan kelas ( sekolah ) : Pagi itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku
panjang di depan sebuah kelas
·
Di
dam : Aku pernah melihat kurap itu ketika kami ramai – ramai mandi di dam tempo
hari
·
Di
sekolah : … kami menuliskan nama ketua kelas baru yang kami inginkan. Esoknya
di sekolah Lintang heran melihat kami yang kebingungan dengan persoalan jurusan
tiga angka.
·
Di
bawah pohon filicium : … Sahara dan
Harun duduk berdua di bawah pohon filicium
·
Di
jalan : “ Aku tak bisa melintas. Seekor buaya sebesar pohon kelapa tak mau
beranjak, menghalang di tengah jalan… “
·
Di
beranda rumah Lintang : Di beranda rumahnya beliau merasa takjub mengamati
rangkaian kata dan terkagum – kagum tulis baca-tulisdapat mengubah masa depan
seseorang.
·
Di
atas pohon filicium : Kucai
mengangkangi dahan tertinggi, sedangkan Sahara, satu-satunya betina dalam
kawanan itu, bersilang kaki di atas dahan terendah.
·
Di
dalam parit : Lalu aku mencari Syahdan. Ia terbaning agak jauh dariku. Tubuhnya
terlentang, tergeletak tak berdaya, air menggenangi setengah tubuhnya di dalam
parit. Ia tak bergerak.
·
Di
punggung bukit : Saat sore menjelang, aku senang belama-lama duduk sendiri di
punggung bukit ini.
·
Di
kebun bunga : Aku selalu tergesa-gesa menyirami bunga biar tugas itu cepat
selesai….
·
Di
Toko Sinar Harapan : Sesampainya di sana – di sebuah toko yang sesak di kawasan
kumuh pasar ikan yang becek-jika perut tidak kuat, siapa pun akan muntah ….
·
Di
karnaval 17 Agustus : Tanpa marching band
sekloah PN, karnaval 17 Agustus akan kehilangan jiwanya.
·
Di
masjid : Tidur di ruang utama masjid adalah sebuah pelanggaran. Kami seharusnya
tidur di belakang, di ruangan beduk dan usungan jenazah.
·
Di
halaman sekolah : Persis pukul 8.50 kami sampai di halaman sekolah.
·
Di
hutan : … dan ratusan orang kampong tumpah ruah mencarinya di tengah hutan
lebat ribuan hectare yang melingkupi lereng gunung itu. Kami sekelas termasuk
di dalamnya.
·
Di
kuburan : Ketika pulang, kami bergandengan tangan. Ketika kami melewati
kuburan, tangan Trapani sedingin es.
·
Di
lomba cerdas cermat : Suasana semakin tegang ketika ketua dewan juri bangkit
dari tempat duduknya, memperkenalkan diri, dan menyatakan lomba dimulai.
2. Latar suasana
·
Tegang
Aku juga merasa cemas. Aku merasa
cemas karena melihat Bu Mus yang resahdan karena beban perasaan ayahku menjalar
ke sekujur tubuhku. Meskipun beliau begitu ramah pagi ini tapi lengan kasarnya
yang meligkari leherku mengalirkan degup jantung yang cepat.
·
Mengharukan
( menyedihkan )
Ibunda
guru,
Ayahku
telah meninggal, besok aku akan ke sekolah.
Salamku,
Lintang
Di bawah pohon filicium kami akan mengucapkan
perpisahan. Aku hanya diam. Hatiku kosong. Perpisahan belum dimulai tapi
Trapani sudah menangis terisak-isak.
·
Bahagia
“ Genap sepuluh orang …,”
katanya.
Harun telah menyelamatkan kami
dan kami pun bersorak.
3. Latar Waktu
·
Pagi
hari : Pagi itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan
sebuah kelas.
·
Siang
hari : Dan di siang yang panas menggelegak ini, ketika pelajaran seni suara, di
salah satu sudut kumuh perguruan miskin Muhammadiyah, kami menjadi saksi
bagaimana nasib menemukan bakat Mahar.
·
Pukul
3.55 : Sudah 25 menit aku mematung di sini, tak ada tanda-tanda kehadiran A
Ling.
·
Pukul
3.57 : Sekarang sudah pukul 3.57, tiga menit menjelang tenggat waktu.
·
Senin
pagi : SENIN pagi yang cerah. Sepucuk puisi dibungkus kertas ungu bermotif
kembang api…
·
Sebulan
yang lalu : Sebulan yang lalu seluruh kampong heboh karena Flo hilang.
·
Menjelang
sore : Menjelang sore sebuah lampu sorot besar yang biasa dipakai di kapal keruk
dibawa ke lereng gunung untuk memudahkan tim penyelamat.
TOKOH dan PENOKOHAN
·
Aku
sebagai Ikal : baik dan penyayang
Bukti :
Aku benci pada mereka yang berpesta pora di Gedong dan aku benci pada diriku
sendiri yang tak berdaya menolong Lintang karena keluarga kami melarat dan
orang tua-orang tua kami harus berjuang setiap hariuntuk sekadar menyambung
hidup.
·
Lintang : pintar,
bijaksana, tidak egois, dan penyayang
Bukti : SEORANG anak laki-laki tertua keluarga
pesisir miskin yang ditinggal mati ayah, harus menanggung nafkah ibu, banyak
adik, kakek-nenek, dan paman-paman yang tak berdaya, Lintang tak punya peluang
sedikit pun untuk melanjutkan sekolah.
Lintang masih tenang-tenang saja,
ia tersenyum sedikit, santai sekali. “Terima kasih atas bentahan yang hebat
ini, apa yang harus saya katakana, bidang saya adalah pendidikan moral
Pancasila …,” kata ketua dewan juri.
·
A
Kiong : cengeng
Bukti : Tangisan A Kiong nyaris merusak acara
perkenalan yang menyenagkan pagi itu.
·
Borek : baik hati
Bukti : Borek rela menukar dulu bajunya dengan
dengan baju Syahdan. Ia tak peduli kalau baju Borek kebesaran dan sebenarnya
tak lebih bagus dari bajunya. Ada pula kemungkinan Borek kurapan,…
·
Syahdan : selalu menghargai orang
lain dan tidak percaya diri
Bukti : Ia tak peduli kalau baju Borek
kebesaran dan sebenarnya tak lebih bagus dari bajunya. Ada pula kemungkinan
Borek kurapan,…
“Tapi sandal dan bajuku buruk
sekali,” katnya dengan polos dan tahu diri sambil melipat karungkecampang yang
dipakainya sebagai tas sekolah.
·
Kucai : kurang pintar, dan tidak punya pendirian
Bukti : Kelemahannya adalah nilai-nilai
ulangannya tidak pernah melampaui angka enam karena ia termasuk murid yang agak
kurang pintar, bodoh yang diperhalus.
Berulang
kali Kucai menolak diangkat kembali menduduki jabatan itu (ketua kelas), namun
setiap kali Bu Mus mengingatkan betapa mulianya menjadi seorang pemimipin,
Kucai pun luluh dan dengan terpaksa bersedia menjabat lagi.
·
Trapani : sedikit
pendiam, pintar, dan patuh kepada orang tua
Bukti :
Trapani agak pendiam, otaknya lumayan, dan selalu menduduki peringkat ketiga.
Di sisi lain kami juga sering sering jengkel pada Trapani karena setiap kami
punya “acara”,… Trapani harus meminta izin dulu pada ibunya.
·
Sahara : cantik, jujur, pintar, penuh perhatian, kepala batu, dan
temperamental
Bukti : Dia secantik grey cheeked green ,.. sifatnya yang utama : penuh perhatian dan
kepala batu. Maka tak ada yang berani bikin gara-gara dengannya karena ia tak
pernah segan mencakar. Jika marah ia akan mengaum dan kedua alisnya bertemu.
Sahara sangat temperamental, tapi ia pintar. Peringkatnya bersaing ketat dengan
Trapani.
·
Harun
: mental sedikit
terganggu dan tidak bisa menerima pelajaran
Bukti : Harun memiliki hobi mengunyah permen
asam jawa dan sama sekali tidak bisa menangkap pelajaran membaca ata menulis.
Jika Bu Mus menjelaskan pelajaran, ia duduk tenang dan terus-menerus tersenyum.
Pada setiap pelajaran, pelajaran apa pun, ia akan mengacung sekali dan
menanyakan pertanyaan sama, setiap hari, sepanjang tahun, ”Ibunda Guru, kapan
kita akan libur lebaran?” “Sebentar lagi Anakku, sebentar lagi …,” jawab Bu Mus
sabar,...
·
Mahar : pintar dalam seni
Bukti : Kami tersihir oleh aura seni yang
terpancar dari sosok anak muda tampan yang menyanyi dari jiwanya, bukan hanya
dari mulutnya, sehingga lagu itu menjadi sebuah simfoni yang agung.
·
Bu
Mus :
berjiwa besar, pandai, karismatik, dan baik hati
Bukti : Bu Mus,… beliau bertekad … untuk terus
mengobarkan pendidikan Islam. Tekad itu memberinya kesulihatan hidup yang tak
terkira, karena kami kekurangan guru – lagi pula siapa yang rela diupah beras
15 kg setiap bulan?...
BU MUS adalah seorang guru yang
pandai, karismatik, dan memiliki pandangan jauh ke depan. Beliau sendiri
menyusun sendiri silabus pelajaran …
·
Pak
K.A Harfan Efendy Noor : baik hati dan
pintar merebut hati oang lain
Bukti : Anak kecil yang tak kuat
mental bisa-bisa langsung terkena sawan. Namun, ketika beliau angkat bicara,
tak dinyana, meluncurlah mutiara-mutiara nan puitis sebagaiprolog penerimaan
selamat datang penuh atmosfer sukacita di sekolahnya yang sederhana. Kemudian
dalam waktu yang amat singkat beliau telah merebut hati kami.
·
Flo : suka dengan
berpetualang dan tidak malu beteman dengan siapa saja
(rendah hati )
Bukti : …Flo adalah petualang sejati. Ia kurang
tertarik dengan aspek ilmu dan keyakinan dalam kejadian-kejadian mistik…
Para pelajar PN yang menganggap
Flo pengkhianat melirik kejam padanya, tapi seperti Lintang, Flo juga tak
peduli. Walaupun besar sekali kemungkinan tim kami dipermalukan oleh kecerdasan
tim PN dalam lomba ini, tapi Flo tak ragu sedikit pun membela habis-habisan
sekolahnya, sekolah kampong Muhammadiyah.
·
Drs.
Zulfikar : Sombong
Bukti : Pria ini adalah seorang fresh graduate yang sombong, ia
memperlihatkan karakter manusia sok pintar yang baru tahu dunia. Ia menutip
buku asing di sana sini tak keruan, menggunakan istilah-istilah aneh karena
ingin mengesankan dirinya luar biasa.
TEMA
Temanya adalah perjuangan
menggapai impian dengan segala keterbatasan atau keterbatasan tidak menghambat untuk
kita meraih cita-cita
ALUR
Alurnya adalah maju, sebab novel
ini menceritakan kisah perjuangan mereka sejak dari SD kelas 1 sampai mereka
Dewasa
SUDUT PANDANG
Sudut pandangnya adalah orang
pertama, pelaku utama, bukti cerita : PAGI itu, waktu aku masih kecil, aku
duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas. Ini membuktikan bahwa novel ini
menggunakan sudut pandang aku sebagai pelaku utama.
AMANAT
Amanatnya bahwa kita harus
mempunyai mimpi setinggi mungkin, jangan pernah malas untuk belajar meskipun
keadaan kita tidak memadai, jangan pernah merasa kita sebagai orang yang paling
pintar, sesungguhnya masih banyak orang yang lebih pintar dari kita. Jadilah
orang yang selalu belajar di mana saja dan dengan siapa saja, sesungguhnya ilmu
itu ada di mana pun asalkan kita punya tekad, usaha, dan tak lupa disertai
dengan doa.
UNSUR
EKSTRINSIK
Nilai
Budaya
Adanya pengenalan tentang budaya
dari luar yaitu Afrika
Bukti : “kalian akan tampil dala
koreogafi massal suku Masai dari Afrika!” kata Mahar
Nilai
Sosial
Adanya pengorbanan yang tanpa pamrih
sebagai guru yaitu Pak Harfan dan Bu Muslimah, mereka ingin mengajarkan
anak-anak yang kurang mampu di Belitong
Bukti :
Hari-hari di sekolah ini kami diajarkan dan didik oleh Bu Mus dan Pak
Harfan yang menurutku merekalah pahlawan tanda jasa yang sebenarnya, mereka
rela tidak di gaji, mereka hanya diberikan 15 kg beras setiap bulannya.
Nilai
Pendidikan
Adanya
semangat ingin belajar walaupun dengan segala kekurangan yang ada di sekolah
Muhammadiyah.
Bukti : Di suatu pagi yang cerah aku dan
ayahku duduk berdua di depan kelas, di hadapan kami pun banyak orang tua dan
anaknya yang sedang duduk menunggu waktu di mulainya sekolah, hari ini adalah hari
pertama aku dan anak – anak lainnya bersekolah. Sekolah ini bernama sekolah
muhammadiyah, sekolah ini tak seperti sekolah lainnya, sekolah ini adalah
sekolah yang sangat tua dan bangunannya pun sudah sangat buruk. Pada saat itu
wajah Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala sekolah dan seorang wanita
muda berjilbab, Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus, sang guru terlihat
sedang sangat cemas. Ternyata mereka sedang cemas, karena melihat pendaftar
siswa baru di sekolah muhammadiyah hanya berjumlah 9 orang, dan mereka harus
bisa mendapatkan minimal 10 orang, jika tidak dapat memenuhinya maka sekolah
ini akan di tutup. Setelah berapa lama kami menunggu waktu menunjukkan pukul 11
kurang 15, dan batas waktu pun sudah hampir habis, Pak Harfan pun sudah bersiap
untuk memberikan pidato pembubaran sekolah yang menjadi harapan satu-satunya
diriku dan teman-teman ku yang lain, Sahara temanku pun menangis terisak-isak,
ia sangat ingin bersekolah di sekolah ini.
Nilai
Agama
Adanya sebuah keajaiban dimana seorang
yang tidak tahu agama dan pendusta agama, ia mendapatkan sebuah magfirah dari
Allah, sehingga ia menjadi muslim
Bukti : A Kiong yang dulu pendusta agama
ini, ia telah dipilih oleh Allah untuk masuk Islam
Sinopsis
Disuatu
pagi di SD Muhammadiyah, pada saat itu adalah hari penerimaan siswa baru,
terlihat kecemasan di wajah bu Muslimah dan pak Farfan yaitu guru dan kepala
sekolah dari sekolah itu, itu disebabkan oleh terancamnya sekolah itu akan
ditutup, jika SD Muhammadiyah tidak bisa menerima siswa minimal 10 orang maka
sekolah itu akan ditutup. Pada saat itu murid yang mendaftar baru 9 orang,
mereka masih kurang 1 murid lagi, mereka terus menunggu hingga pada akhirnya
ketika pak Farfan akan membacakan pidato penutupan sekolah Muhammadiyah ini, tiba
– tiba datang lah seorang anak dari kejauhan dengan berlari yaitu Harun, dengan
itu maka sekolah Muhammaddiyah bebas dari penutupan itu. 10 murid itu adalah
Ikal, Lintang, Kucai, Borek, A Kiong, Mahar, Harun, Sahara, Syahdan, dan
Trapani.
Sekolah
Muhammadiyah adalah sekolah paling tua di
Belitong, sekolah ini sungguh tak layak bila dibilang sekolah karena
sekolah ini sudah banyak kerusakan dimana-mana. Meskipun sekolah ini sangat
miskin tetapi semua murid yang bersekolah di SD ini mempunyai semangat dan cita
– cita yang tinggi.
Pada saat hari kemerdekaan diadakan
sebuah karnaval, SD Muhammadiyah pun mengikutinya yang tampil dengan sebuah
kesederhaan, meskipun begitu mereka sangat kreatif yaitu dengan menampilkan
sebuah tarian yang akhirnya membuat mereka menjadi juara pada karnaval
tersebut, semua orang bertepuk tangan atas penampilan mereka yang sangat
memukau, semua ide itu berasal dari seorang anak yang sangat cerdas dalam
kesenian yaitu Mahar. Mereka sangat bahagia dan bangga atas kemenangan itu, tetapi
itu belum membuat mereka puas. Suatu hari diadakan lomba cerdas cermat, SD
Muhammadiyah diwakili oleh Sahara, Ikal,dan Lintang. Ketika pertanyaan –
pertanyaan di ajukan kepada semua grup, Lintang pun selalu dapat menjawab
pertanyaan – pertanyaan itu, itu pun membuat Sekolah Muhammadiyah menjadi
pemenang dalam lomba cerdas cermat, mereka merasa bangga dan bahagia karena
telah 2 kali mengalahkan sekolah PN Timah yang merupakan sekolah paling bagus
di Belitong.
Setelah kemenangan mereka tersebut,
tiba-tiba Lintang seorang anak nelayan yang cerdas tidak pernah masuk sekolah
lagi, lalu Lintang mengirim surat dan mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal
sehingga ia tidak dapat sekolah lagi, karena harus menjaga dan menafkahi adik –
adiknya. Ia juga mengatakan ia akan ke sekolah untuk mengucapakan salam
perpisahan. Pada saat Lintang mengucapkan salam perpisahan, semua orang sangat
sedih bahkan ada yang menangis. Tetapi itu tidak membuat semangat sahabat
Lintang yaitu Ikal menjadi menurun untuk mencapai cita – citanya, akhirnya pun
ia dapat terus berusaha menggapai cita – citanya dengan bersekolah di
Universitas de Paris Sorbonne, Prancis, ia bersekolah dengan menggunakan
beasiswa yang didapatnya. Ini membuktikan bahwa jika kita bersungguh – sungguh
untuk menggapai suatu impian, maka impian kita itu akan terwujud, meskipun
dengan sekolah yang penuh kekurangan dalam segala hal.
PENULIS RESENSI : YUSUF ILHAM
AKBAR