Rabu, 18 Januari 2012

RESENSI NOVEL LASKAR PELANGI


TUGAS BAHASA INDONESIA
RESENSI NOVEL
“LASKAR PELANGI”
PENGARANG NOVEL
“ANDREA HIRATA”







PENULIS RESENSI
“YUSUF ILHAM AKBAR”
KELAS
“XI IPA 5”



SMA NEGERI 3 KOTABUMI
LAMPUNG UTARA

RESENSI NOVEL

A.     Judul Novel Resensi : Laskar Pelangi

B.     Data Buku
a)      Judul novel adalah Laskar Pelangi
b)      Pengarang adalah Andrea Hirata
c)      Diterbitkan oleh Penerbitan Bentang Anggota IKAPI ( PT. Bentang Pustaka )
d)      Diterbitkan Februari 2008 dan cetakan ke-18
e)      Tebal buku 20.5 cm, 34 bab, 534 halaman
f)       Harga novel adalah Rp 40.000
g)      Warna novel yang dominan adalah hitam dan ada warna merah jambu serta biru

C.     Pembukaan
Biografi Pengarang
      Andrea Hirata lahir di Belitong. Meskipun studi mayornya ekonomi, ia amat menggemari sains fisika, kimia, biologi, dan astronomi, tentu saja sastra. Edensor adalah novel ketiganya setelah novel-novel best seller Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademis dan backpacker. Sekarang ia tengah mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya. Andrea berpendidikan ekonomi dari Universitas Indonesia. Ia mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science di Universitas de Paris Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia lulus cum claude. Tesis itu telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi ilmiah. Saat ini Andrea tinggal di Bandung dan masih bekerja di kantor pusat PT. Telkom. Hobinya naik komidi putar. Komunikasi dengan Andrea dapat melalui www.sastrabelitong.multiply.com















Unsur Intrinsik Novel
LATAR
1.      Latar Tempat

·         Di depan kelas ( sekolah ) : Pagi itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas
·         Di dam : Aku pernah melihat kurap itu ketika kami ramai – ramai mandi di dam tempo hari
·         Di sekolah : … kami menuliskan nama ketua kelas baru yang kami inginkan. Esoknya di sekolah Lintang heran melihat kami yang kebingungan dengan persoalan jurusan tiga angka.
·         Di bawah pohon filicium : … Sahara dan Harun duduk berdua di bawah pohon filicium
·         Di jalan : “ Aku tak bisa melintas. Seekor buaya sebesar pohon kelapa tak mau beranjak, menghalang di tengah  jalan… “
·         Di beranda rumah Lintang : Di beranda rumahnya beliau merasa takjub mengamati rangkaian kata dan terkagum – kagum tulis baca-tulisdapat mengubah masa depan seseorang.
·         Di atas pohon filicium : Kucai mengangkangi dahan tertinggi, sedangkan Sahara, satu-satunya betina dalam kawanan itu, bersilang kaki di atas dahan terendah.
·         Di dalam parit : Lalu aku mencari Syahdan. Ia terbaning agak jauh dariku. Tubuhnya terlentang, tergeletak tak berdaya, air menggenangi setengah tubuhnya di dalam parit. Ia tak bergerak.
·         Di punggung bukit : Saat sore menjelang, aku senang belama-lama duduk sendiri di punggung bukit ini.
·         Di kebun bunga : Aku selalu tergesa-gesa menyirami bunga biar tugas itu cepat selesai….
·         Di Toko Sinar Harapan : Sesampainya di sana – di sebuah toko yang sesak di kawasan kumuh pasar ikan yang becek-jika perut tidak kuat, siapa pun akan muntah ….
·         Di karnaval 17 Agustus : Tanpa marching band sekloah PN, karnaval 17 Agustus akan kehilangan jiwanya.
·         Di masjid : Tidur di ruang utama masjid adalah sebuah pelanggaran. Kami seharusnya tidur di belakang, di ruangan beduk dan usungan jenazah.
·         Di halaman sekolah : Persis pukul 8.50 kami sampai di halaman sekolah.
·         Di hutan : … dan ratusan orang kampong tumpah ruah mencarinya di tengah hutan lebat ribuan hectare yang melingkupi lereng gunung itu. Kami sekelas termasuk di dalamnya.
·         Di kuburan : Ketika pulang, kami bergandengan tangan. Ketika kami melewati kuburan, tangan Trapani sedingin es.
·         Di lomba cerdas cermat : Suasana semakin tegang ketika ketua dewan juri bangkit dari tempat duduknya, memperkenalkan diri, dan menyatakan lomba dimulai.

2.      Latar suasana

·         Tegang
Aku juga merasa cemas. Aku merasa cemas karena melihat Bu Mus yang resahdan karena beban perasaan ayahku menjalar ke sekujur tubuhku. Meskipun beliau begitu ramah pagi ini tapi lengan kasarnya yang meligkari leherku mengalirkan degup jantung yang cepat.



·         Mengharukan ( menyedihkan )
Ibunda guru,
Ayahku telah meninggal, besok aku akan ke sekolah.
Salamku, Lintang
Di bawah pohon filicium kami akan mengucapkan perpisahan. Aku hanya diam. Hatiku kosong. Perpisahan belum dimulai tapi Trapani sudah menangis terisak-isak.
·         Bahagia
“ Genap sepuluh orang …,” katanya.
Harun telah menyelamatkan kami dan kami pun bersorak.

3.      Latar Waktu

·         Pagi hari : Pagi itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas.
·         Siang hari : Dan di siang yang panas menggelegak ini, ketika pelajaran seni suara, di salah satu sudut kumuh perguruan miskin Muhammadiyah, kami menjadi saksi bagaimana nasib menemukan bakat Mahar.
·         Pukul 3.55 : Sudah 25 menit aku mematung di sini, tak ada tanda-tanda kehadiran A Ling.
·         Pukul 3.57 : Sekarang sudah pukul 3.57, tiga menit menjelang tenggat waktu.
·         Senin pagi : SENIN pagi yang cerah. Sepucuk puisi dibungkus kertas ungu bermotif kembang api…
·         Sebulan yang lalu : Sebulan yang lalu seluruh kampong heboh karena Flo hilang.
·         Menjelang sore : Menjelang sore sebuah lampu sorot besar yang biasa dipakai di kapal keruk dibawa ke lereng gunung untuk memudahkan tim penyelamat.

TOKOH dan PENOKOHAN

·         Aku sebagai Ikal          : baik dan penyayang
Bukti                            : Aku benci pada mereka yang berpesta pora di Gedong dan aku benci pada diriku sendiri yang tak berdaya menolong Lintang karena keluarga kami melarat dan orang tua-orang tua kami harus berjuang setiap hariuntuk sekadar menyambung hidup.
·         Lintang                                    : pintar, bijaksana, tidak egois, dan penyayang
Bukti                            : SEORANG anak laki-laki tertua keluarga pesisir miskin yang ditinggal mati ayah, harus menanggung nafkah ibu, banyak adik, kakek-nenek, dan paman-paman yang tak berdaya, Lintang tak punya peluang sedikit pun untuk melanjutkan sekolah.
Lintang masih tenang-tenang saja, ia tersenyum sedikit, santai sekali. “Terima kasih atas bentahan yang hebat ini, apa yang harus saya katakana, bidang saya adalah pendidikan moral Pancasila …,” kata ketua dewan juri.
·         A Kiong                       : cengeng
Bukti                            : Tangisan A Kiong nyaris merusak acara perkenalan yang menyenagkan pagi itu.
·         Borek                           : baik hati
Bukti                            : Borek rela menukar dulu bajunya dengan dengan baju Syahdan. Ia tak peduli kalau baju Borek kebesaran dan sebenarnya tak lebih bagus dari bajunya. Ada pula kemungkinan Borek kurapan,…
·         Syahdan                       : selalu menghargai orang lain dan tidak percaya diri
Bukti                            : Ia tak peduli kalau baju Borek kebesaran dan sebenarnya tak lebih bagus dari bajunya. Ada pula kemungkinan Borek kurapan,…
“Tapi sandal dan bajuku buruk sekali,” katnya dengan polos dan tahu diri sambil melipat karungkecampang yang dipakainya sebagai tas sekolah.
·         Kucai                           : kurang pintar,  dan tidak punya pendirian
Bukti                            : Kelemahannya adalah nilai-nilai ulangannya tidak pernah melampaui angka enam karena ia termasuk murid yang agak kurang pintar, bodoh yang diperhalus.
            Berulang kali Kucai menolak diangkat kembali menduduki jabatan itu (ketua kelas), namun setiap kali Bu Mus mengingatkan betapa mulianya menjadi seorang pemimipin, Kucai pun luluh dan dengan terpaksa bersedia menjabat lagi.
·         Trapani                                    : sedikit pendiam, pintar, dan patuh kepada orang tua
Bukti                            : Trapani agak pendiam, otaknya lumayan, dan selalu menduduki peringkat ketiga. Di sisi lain kami juga sering sering jengkel pada Trapani karena setiap kami punya “acara”,… Trapani harus meminta izin dulu pada ibunya.
·         Sahara                          : cantik, jujur,  pintar, penuh perhatian, kepala batu, dan temperamental
Bukti                            : Dia secantik grey cheeked green ,.. sifatnya yang utama : penuh perhatian dan kepala batu. Maka tak ada yang berani bikin gara-gara dengannya karena ia tak pernah segan mencakar. Jika marah ia akan mengaum dan kedua alisnya bertemu. Sahara sangat temperamental, tapi ia pintar. Peringkatnya bersaing ketat dengan Trapani.
·         Harun                          : mental sedikit terganggu dan tidak bisa menerima pelajaran
Bukti                            : Harun memiliki hobi mengunyah permen asam jawa dan sama sekali tidak bisa menangkap pelajaran membaca ata menulis. Jika Bu Mus menjelaskan pelajaran, ia duduk tenang dan terus-menerus tersenyum. Pada setiap pelajaran, pelajaran apa pun, ia akan mengacung sekali dan menanyakan pertanyaan sama, setiap hari, sepanjang tahun, ”Ibunda Guru, kapan kita akan libur lebaran?” “Sebentar lagi Anakku, sebentar lagi …,” jawab Bu Mus sabar,...
·         Mahar                          : pintar dalam seni
Bukti                            : Kami tersihir oleh aura seni yang terpancar dari sosok anak muda tampan yang menyanyi dari jiwanya, bukan hanya dari mulutnya, sehingga lagu itu menjadi sebuah simfoni yang agung.
·         Bu Mus                                    : berjiwa besar, pandai, karismatik, dan baik hati
Bukti                            : Bu Mus,… beliau bertekad … untuk terus mengobarkan pendidikan Islam. Tekad itu memberinya kesulihatan hidup yang tak terkira, karena kami kekurangan guru – lagi pula siapa yang rela diupah beras 15 kg setiap bulan?...
BU MUS adalah seorang guru yang pandai, karismatik, dan memiliki pandangan jauh ke depan. Beliau sendiri menyusun sendiri silabus pelajaran …
·         Pak K.A Harfan Efendy Noor : baik hati dan pintar merebut hati oang lain
Bukti                                        : Anak kecil yang tak kuat mental bisa-bisa langsung terkena sawan. Namun, ketika beliau angkat bicara, tak dinyana, meluncurlah mutiara-mutiara nan puitis sebagaiprolog penerimaan selamat datang penuh atmosfer sukacita di sekolahnya yang sederhana. Kemudian dalam waktu yang amat singkat beliau telah merebut hati kami.
·         Flo                               : suka dengan berpetualang dan tidak malu beteman dengan siapa saja                                                                                                                                (rendah hati )
Bukti                            : …Flo adalah petualang sejati. Ia kurang tertarik dengan aspek ilmu dan keyakinan dalam kejadian-kejadian mistik…
Para pelajar PN yang menganggap Flo pengkhianat melirik kejam padanya, tapi seperti Lintang, Flo juga tak peduli. Walaupun besar sekali kemungkinan tim kami dipermalukan oleh kecerdasan tim PN dalam lomba ini, tapi Flo tak ragu sedikit pun membela habis-habisan sekolahnya, sekolah kampong Muhammadiyah.
·         Drs. Zulfikar                : Sombong
Bukti                            : Pria ini adalah seorang fresh graduate yang sombong, ia memperlihatkan karakter manusia sok pintar yang baru tahu dunia. Ia menutip buku asing di sana sini tak keruan, menggunakan istilah-istilah aneh karena ingin mengesankan dirinya luar biasa.

TEMA

Temanya adalah perjuangan menggapai impian dengan segala keterbatasan atau keterbatasan tidak menghambat untuk kita meraih cita-cita

ALUR

Alurnya adalah maju, sebab novel ini menceritakan kisah perjuangan mereka sejak dari SD kelas 1 sampai mereka Dewasa

SUDUT PANDANG

Sudut pandangnya adalah orang pertama, pelaku utama, bukti cerita : PAGI itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas. Ini membuktikan bahwa novel ini menggunakan sudut pandang aku sebagai pelaku utama.

AMANAT

Amanatnya bahwa kita harus mempunyai mimpi setinggi mungkin, jangan pernah malas untuk belajar meskipun keadaan kita tidak memadai, jangan pernah merasa kita sebagai orang yang paling pintar, sesungguhnya masih banyak orang yang lebih pintar dari kita. Jadilah orang yang selalu belajar di mana saja dan dengan siapa saja, sesungguhnya ilmu itu ada di mana pun asalkan kita punya tekad, usaha, dan tak lupa disertai dengan doa.










UNSUR EKSTRINSIK

Nilai Budaya
            Adanya pengenalan tentang budaya dari luar yaitu Afrika
Bukti : “kalian akan tampil dala koreogafi massal suku Masai dari Afrika!” kata Mahar
Nilai Sosial

      Adanya pengorbanan yang tanpa pamrih sebagai guru yaitu Pak Harfan dan Bu Muslimah, mereka ingin mengajarkan anak-anak yang kurang mampu di Belitong
Bukti          :  Hari-hari di sekolah ini kami diajarkan dan didik oleh Bu Mus dan Pak Harfan yang menurutku merekalah pahlawan tanda jasa yang sebenarnya, mereka rela tidak di gaji, mereka hanya diberikan 15 kg beras setiap bulannya.

Nilai Pendidikan

      Adanya semangat ingin belajar walaupun dengan segala kekurangan yang ada di sekolah Muhammadiyah.
Bukti          : Di suatu pagi yang cerah aku dan ayahku duduk berdua di depan kelas, di hadapan kami pun banyak orang tua dan anaknya yang sedang duduk menunggu waktu di mulainya sekolah, hari ini adalah hari pertama aku dan anak – anak lainnya bersekolah. Sekolah ini bernama sekolah muhammadiyah, sekolah ini tak seperti sekolah lainnya, sekolah ini adalah sekolah yang sangat tua dan bangunannya pun sudah sangat buruk. Pada saat itu wajah Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala sekolah dan seorang wanita muda berjilbab, Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus, sang guru terlihat sedang sangat cemas. Ternyata mereka sedang cemas, karena melihat pendaftar siswa baru di sekolah muhammadiyah hanya berjumlah 9 orang, dan mereka harus bisa mendapatkan minimal 10 orang, jika tidak dapat memenuhinya maka sekolah ini akan di tutup. Setelah berapa lama kami menunggu waktu menunjukkan pukul 11 kurang 15, dan batas waktu pun sudah hampir habis, Pak Harfan pun sudah bersiap untuk memberikan pidato pembubaran sekolah yang menjadi harapan satu-satunya diriku dan teman-teman ku yang lain, Sahara temanku pun menangis terisak-isak, ia sangat ingin bersekolah di sekolah ini.

Nilai Agama
      Adanya sebuah keajaiban dimana seorang yang tidak tahu agama dan pendusta agama, ia mendapatkan sebuah magfirah dari Allah, sehingga ia menjadi muslim
Bukti          : A Kiong yang dulu pendusta agama ini, ia telah dipilih oleh Allah untuk masuk Islam







Sinopsis

Disuatu pagi di SD Muhammadiyah, pada saat itu adalah hari penerimaan siswa baru, terlihat kecemasan di wajah bu Muslimah dan pak Farfan yaitu guru dan kepala sekolah dari sekolah itu, itu disebabkan oleh terancamnya sekolah itu akan ditutup, jika SD Muhammadiyah tidak bisa menerima siswa minimal 10 orang maka sekolah itu akan ditutup. Pada saat itu murid yang mendaftar baru 9 orang, mereka masih kurang 1 murid lagi, mereka terus menunggu hingga pada akhirnya ketika pak Farfan akan membacakan pidato penutupan sekolah Muhammadiyah ini, tiba – tiba datang lah seorang anak dari kejauhan dengan berlari yaitu Harun, dengan itu maka sekolah Muhammaddiyah bebas dari penutupan itu. 10 murid itu adalah Ikal, Lintang, Kucai, Borek, A Kiong, Mahar, Harun, Sahara, Syahdan, dan Trapani.
            Sekolah Muhammadiyah adalah sekolah paling tua di  Belitong, sekolah ini sungguh tak layak bila dibilang sekolah karena sekolah ini sudah banyak kerusakan dimana-mana. Meskipun sekolah ini sangat miskin tetapi semua murid yang bersekolah di SD ini mempunyai semangat dan cita – cita yang tinggi.
            Pada saat hari kemerdekaan diadakan sebuah karnaval, SD Muhammadiyah pun mengikutinya yang tampil dengan sebuah kesederhaan, meskipun begitu mereka sangat kreatif yaitu dengan menampilkan sebuah tarian yang akhirnya membuat mereka menjadi juara pada karnaval tersebut, semua orang bertepuk tangan atas penampilan mereka yang sangat memukau, semua ide itu berasal dari seorang anak yang sangat cerdas dalam kesenian yaitu Mahar. Mereka sangat bahagia dan bangga atas kemenangan itu, tetapi itu belum membuat mereka puas. Suatu hari diadakan lomba cerdas cermat, SD Muhammadiyah diwakili oleh Sahara, Ikal,dan Lintang. Ketika pertanyaan – pertanyaan di ajukan kepada semua grup, Lintang pun selalu dapat menjawab pertanyaan – pertanyaan itu, itu pun membuat Sekolah Muhammadiyah menjadi pemenang dalam lomba cerdas cermat, mereka merasa bangga dan bahagia karena telah 2 kali mengalahkan sekolah PN Timah yang merupakan sekolah paling bagus di Belitong.
            Setelah kemenangan mereka tersebut, tiba-tiba Lintang seorang anak nelayan yang cerdas tidak pernah masuk sekolah lagi, lalu Lintang mengirim surat dan mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal sehingga ia tidak dapat sekolah lagi, karena harus menjaga dan menafkahi adik – adiknya. Ia juga mengatakan ia akan ke sekolah untuk mengucapakan salam perpisahan. Pada saat Lintang mengucapkan salam perpisahan, semua orang sangat sedih bahkan ada yang menangis. Tetapi itu tidak membuat semangat sahabat Lintang yaitu Ikal menjadi menurun untuk mencapai cita – citanya, akhirnya pun ia dapat terus berusaha menggapai cita – citanya dengan bersekolah di Universitas de Paris Sorbonne, Prancis, ia bersekolah dengan menggunakan beasiswa yang didapatnya. Ini membuktikan bahwa jika kita bersungguh – sungguh untuk menggapai suatu impian, maka impian kita itu akan terwujud, meskipun dengan sekolah yang penuh kekurangan dalam segala hal.
             
PENULIS RESENSI : YUSUF ILHAM AKBAR